Rupiah Menguat Tipis tapi Pasti, Dipicu Optimisme Ekonomi RI dan Harapan The Fed Pangkas Suku Bunga


Oleh : Dani Yoga

HOLOPIS.COM, JAKARTA - Nilai tukar rupiah dilaporkan menguat 36 poin atau 0,22 persen menjadi Rp16.654 per dolar AS saat penutupan perdagangan Senin sore (11/10). Sebelumnya, nilai tukar rupiah Rp16.690 per dolar AS.

Pengamat ekonomi dan komoditas, Ibrahim Assuaibi menganalisa rupiah menguat karena ditopang Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang meningkat signifikan pada Oktober 2025. Angka kenaikan itu menjadi 121,2, naik dari September yang berada di level 115.

Menurut dia, kondisi ekonomi nasional di periode Oktober membuat masyarakat Indonesia punya keyakinan.

“Hasil Survei Konsumen terbaru dari Bank Indonesia (BI) menunjukkan adanya rebound optimisme,” kata Ibrahim dalam keterangannya, di Jakarta, Senin, (10/11/2025).

Ibrahim menuturkan naiknya angka IKK juga memperlihatkan konsumen optimis membaca prospek ekonomi RI. Dia menjelaskan, optimisme masyarakat juga didorong oleh persepsi masyarakat yang membaik terhadap dua faktor pembentuk IKK.

Podium Direktur FBI Christopher Wray menunggu kedatangannya sebelum konferensi persnya di markas FBI mengenai laporan inspektur jenderal Departemen Kehakiman AS mengenai tindakan Biro Investigasi Federal dan pemilihan presiden AS tahun 2016 di Washington, AS 14 Juni 2018. [Foto : REUTERS/Yuri Gripas]

Faktor pertama karena Indeks Kondisi Ekonomi (IKE) mengalami kenaikan signifikan, dari 102,7 pada September menjadi 109,1 pada Oktober. Dia menilai naiknya angka itu mencerminkan persepsi masyarakat yang membaik terhadap kondisi riil ekonomi nasional.

Lalu, yang kedua yaitu dengan IEK yang menunjukkan kenaikan berarti ada harapan dan optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi untuk enam bulan ke depan. Ia melihat ada kondisi kepercayaan masyarakat yang meningkat drastis.

Ibrahim menambahkan IKK yang seperti rebound memperlihatkan sinyal positif bahwa konsumsi rumah tangga jadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional.

"Diprediksi akan semakin kuat dan menjadi pendorong aktivitas ekonomi yang berkelanjutan di kuartal IV tahun 2025,” lanjut Ibrahim.

Kemudian, ia menambahkan faktor lain yang jadi sentimen pendukung menguatnya kurs rupiah karena spekulasi berkelanjutan dari sebagian besar investor. Harapan investor itu bahwa bank Sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve System atau The Fed akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin pada bulan Desember.

Prediksi langkah The Fed itu karena serangkaian data sektor swasta yang melemah.

Berdasarkan data pekerjaan Challenger memperlihatkan AS mengalami gelombang pemutusan hubungan kerja atau PHK terburuk dalam 20 tahun terakhir pada Oktober 2025. Dari dinamika itu, memunculkan spekulasi The Fed kemungkinan memangkas suku bunga untuk mencegah pelemahan pasar tenaga kerja lebih lanjut.

Tampilan Utama