Ancam Satwa Endemik, Aktifitas Pencari Gaharu Ubah Pola Hidup Badak Kalimantan

22 Shares

HOLOPIS.COM, MAHAKAM ULU – Pari seekor badak endemik pulau Kalimantan masih bebas berkeliaran di hutan Mahakam Ulu, Kalimantan Timur. Jejaknya masih terlihat sejak satu bulan terakhir yang di lacak oleh Badan Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur.

Namun, baru-baru ini di temukan ancaman bagi nyawa Pari yang tak lain adalah perbuatan manusia. Pari yang saat ini berada di kecamatan Laham masih meninggalkan bekas kubangan baru, kotoran, jejak tapak kaki dan bekas makanannya berupa biji-bijian.

- Advertisement -Hosting Terbaik

Berdekatan tim dari BKSDA Kaltim juga menemukan jejak manusia yang tak lain adalah pencari kayu Gaharu. Baru-baru ini ditemukan pondok serta tulang belulang kancil, kura-kura sungai / bulus serta bulu burung enggang dan jerat hewan.

Walaupun jerat tersebut bukan di peruntukan untuk badak namun dikhawatirkan bisa mengenai satu-satunya badak yang saat ini masih ada di alam bebas Kalimantan tersebut. Jerat yang di biarkan dapat mengenai badak dan mati perlahan tanpa diketahui yang dalam hal ini badak tersebut hanya tersisa 1 di alam liar yang mana artinya badak sudah di jurang punah, mati berarti hilangnya populasi.

- Advertisement -

Kepala Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur, Ari Wibawanto mengungkapkan penyelamatan satu badak terakhir Kalimantan ini sudah direncanakan jauh-jauh hari namun karena keterbatasan makan akan di laksanakan pada 2026 mendatang.

“Jadi sebetulnya kegiatan penyelamatan badak itu sudah dilakukan jauh-jauh hari ya, tidak hanya sekarang-sekarang ini. Tapi mengingat bahwa ada keterbatasan-keterbatasan, maka direncanakan proses translokasi itu akan dilakukan pada awal tahun 2026. Nah, selama sebelum proses evakuasi atau translokasi itu dilakukan, maka kita mempersiapkan semua hal, ” tuturnya kepada media ini diwawancara melalui sambungan telepon.

Ia menyebutkan baik sarana dan prasarana tempat nanti badak Kalimantan akan tinggal di Suaka Badak Kelian, ia juga mengajak personil berbagai instansi turut serta dalam proses penyelamatan dan pemindahan badak terakhir Kalimantan itu ke tempat tinggal barunya di Kelian.

“Ya, kita melakukan upaya sosialisasi kepada semua pihak, terutama pada privat-privat sektor atau lembaga yang ada di sekitar Ring 1 (lokasi badak) itu sendiri. Jadi kalau kita lihat bahwa lokasi habitat badak pari sekarang ini berada di perbatasan antara Kaltim dan Kalteng. Karena itu sosialisasi kita lakukan tidak hanya di Kaltim saja, tapi juga harus di Kalteng juga,” terangnya lagi.

Sementara itu, Kepala Resor Suaka Badak Kelian, BKSDA Kalimantan Timur, Jono Adiputro membenarkan tentang adanya aktivitas pencari gaharu disekitar jalur perlintasan badak yang bisa mengakibatkan jalur perlintasan berubah dan badak tak terpantau.

“Oke, ya dari sebagai informasi bahwa dari hasil survei kami, survei badak, beberapa waktu yang lalu bahwa ditemukan adanya pencari gaharu yang beraktivitas di sekitar batas wilayah antara Kaltim dan Kalteng. Kita mencoba untuk menelusuri rintisan atau bekas jejak tersebut memang arahnya, arah masuknya adalah berasal dari Kalimantan Tengah. Kami indikasikan mereka adalah para pencari gaharu, “bebernya.

Diketahui ketika pencari gaharu masuk dalam hutan mencari gaharu membutuhkan waktu yang lama pastinya, ada sekitar 3-4 bulan di dalam hutan sehingga apa-apa yang mereka bawa, bahan makan yang mereka bawa adalah bahan-bahan makan yang awet seperti beras dan lain-lain. Tentunya ketika di dalam hutan mereka sambil juga mencari lauk-lauknya seperti menjerat, memancing, terus juga berburu satwa-satwa yang ada di hutan.

- Advertisement -
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
22 Shares
💬 Memuat kolom komentar Facebook...
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut

Berita Terkait

Berita Terkait

Berita Terbaru

holopis