HOLOPIS.COM, JAKARTA – Kawasan Kota Tua Jakarta dikenal sebagai salah satu wilayah bersejarah dengan bangunan-bangunan tua peninggalan era kolonial Belanda. Diantara banyaknya bangunan yang menyimpan cerita masa lampau, Toko Merah menjadi salah satu yang paling mencuri perhatian.
Berlokasi di Jalan Kali Besar Barat, bangunan ini tidak hanya terkenal karena usianya yang mencapai ratusan tahun, tetapi juga karena kisah-kisah mistis yang tersimpan di dalamnya.
Bangunan Toko Merah awalnya dibangun pada tahun 1730 oleh Gustaaf Willem Baron van Imhoff sebagai tempat tinggalnya.
Lahan seluas sekitar 2.471 m² itu kemudian beberapa kali dialihfungsikan mulai dari rumah tinggal pejabat Belanda, menjadi asrama kampus militer, hotel, hingga toko milik seorang bangsawan Tionghoa, Oey Liauw Kong, yang kemudian membuat nama Toko Merah melekat karena warna bangunannya.
Terlepas dari fungsi-fungsinya yang berubah, warna merah dan gaya arsitektur kolonial-Tionghoa menjadi ciri khas yang tak bisa diabaikan.
Kisah Kelam Geger Pecinan 1740
Salah satu titik kelam dalam sejarah Toko Merah adalah peristiwa Geger Pecinan yang terjadi tahun 1740. Pada tanggal 9 Oktober, prajurit VOC atas perintah gubernur jenderal saat itu melakukan pembantaian terhadap warga Tionghoa di Batavia, dan diperkirakan sekitar 24 ribu orang menjadi korban dalam 13 hari.
Menurut cerita, mayat-mayat itu kemudian dibiarkan berserakan di Kali Besar hingga airnya berubah warna menjadi merah pekat cerita ini dikaitkan dengan asal nama Merah di bangunan itu.
Beberapa narasi juga menyebut bahwa bagian dari pembantaian atau penyiksaan dilakukan di sekitar Toko Merah, yang kemudian menimbulkan aura misteri dan mistis terhadap bangunan itu.
Cerita Mistis Toko Merah
Meski tampak megah, banyak yang menyebut Toko Merah memiliki suasana yang berat dan misterius. Aura kelam seolah menyelimuti setiap sudutnya. Tak sedikit pengunjung hingga petugas penjaga yang mengaku pernah merasakan kehadiran sosok tak kasat mata di dalam bangunan tersebut. Salah satu kisah yang paling sering diceritakan adalah tentang suara langkah kaki prajurit yang terdengar di lantai atas ketika tidak ada seorangpun di sana. Bunyi langkah itu sering muncul pada malam hari atau saat bangunan sepi, seolah ada seseorang yang masih tinggal di dalamnya.

