Mengenal Reksadana, Investasi Kolektif yang Makin Diminati Masyarakat
HOLOPIS.COM, JAKARTA - Belakangan ini, masyarakat Indonesia semakin ramai membicarakan soal investasi. Salah satu yang paling populer adalah reksadana. Sebelum ikut menanam uang di instrumen ini, penting untuk mengenal dulu apa itu reksadana dan bagaimana cara kerjanya.
Reksadana adalah jenis investasi yang mengumpulkan dana dari banyak investor untuk kemudian dikelola membeli berbagai aset keuangan seperti saham, obligasi, atau surat berharga lainnya.
Secara sederhana, investor tidak membeli saham atau obligasi secara langsung satu per satu, melainkan berinvestasi bersama-sama melalui reksadana.
Uang yang dikumpulkan itu kemudian dikelola oleh manajer investasi untuk membeli berbagai aset, dan investor akan mendapatkan bagian keuntungan dari hasil pengelolaan dana tersebut.
Sejarah Reksadana
Konsep reksadana ternyata sudah ada sejak lebih dari dua abad lalu. Pada tahun 1774, seorang pedagang asal Belanda bernama Adriaan van Ketwich memperkenalkan ide mengumpulkan dana dari banyak orang untuk kemudian diinvestasikan bersama.
Ia menamai dana tersebut “Eendragt Maakt Magt”, yang berarti “persatuan menciptakan kekuatan”.
Gagasan Ketwich menjadi dasar dari konsep diversifikasi investasi — yakni menanam modal di banyak tempat untuk mengurangi risiko kerugian.
Sementara bentuk reksadana modern seperti yang dikenal saat ini pertama kali muncul di Amerika Serikat pada 1924, ketika Massachusetts Investors’ Trust berdiri di Boston.
Namun dana tersebut baru dibuka untuk publik empat tahun kemudian, pada 1928.
Kelebihan dan Kekurangan Reksadana
Mengutip Bankrate.com, ada sejumlah kelebihan dan kekurangan yang perlu diketahui sebelum berinvestasi di reksadana.
Kelebihan Reksadana:
- Potensi Keuntungan Menarik Reksadana bisa memberi imbal hasil rata-rata 10–12 persen per tahun, bahkan bisa lebih tinggi saat pasar sedang baik.
- Mudah Diakses Semua Kalangan Investasi ini bisa dimulai dengan modal kecil dan dapat diatur otomatis agar berinvestasi rutin setiap bulan.
- Diversifikasi Otomatis Karena dana dikelola di banyak instrumen dan perusahaan, risikonya jadi lebih tersebar dan tidak bergantung pada satu aset saja.
- Dikelola oleh Profesional Investor tidak perlu pusing memantau pasar karena semua dikelola oleh manajer investasi berpengalaman.
- Bisa Reinvestasi Otomatis Keuntungan yang diperoleh bisa langsung diinvestasikan kembali untuk memperbesar potensi imbal hasil.
Kekurangan Reksadana:
- Biaya Pengelolaan dan Komisi Beberapa reksadana mengenakan biaya tambahan, seperti biaya jual-beli atau pengelolaan.
- Tidak Bisa Diperdagangkan Sepanjang Hari Reksadana hanya bisa diperdagangkan sekali sehari setelah pasar tutup, sekitar pukul 16.00 waktu setempat, sehingga harga bisa berubah dari yang diharapkan.
Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, reksadana tetap menjadi salah satu instrumen investasi yang menarik, terutama bagi pemula yang ingin mulai menanam uang dengan cara yang relatif aman dan praktis.
Jadi, apakah Sobat Holopis siap menjajal dunia reksadana?
Penulis: Rafli Abdullah Santosa