Kenali Commuting Stress : Tekanan Psikologis Akibat Perjalanan Panjang di Transportasi Umum


Oleh : Aisha Balqis Salsabila

HOLOPIS.COM, JAKARTA — Bagi banyak pekerja di kota besar, perjalanan menuju dan pulang dari tempat kerja sering kali menjadi momen paling melelahkan dalam sehari. Macet, kendaraan umum yang padat, dan waktu tempuh yang panjang dapat memicu stres tersendiri yang dikenal dengan istilah commuting stress.

Fenomena ini kian umum dialami oleh pengguna transportasi umum di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Aktivitas sehari-hari yang diwarnai antrean panjang, kebisingan, dan polusi udara menjadi pemicu utama tekanan psikologis yang berpengaruh terhadap kondisi mental maupun fisik seseorang.

Commuting stress merupakan bentuk stres yang muncul akibat rutinitas perjalanan, terutama perjalanan jarak jauh menuju tempat kerja.

Stres ini dapat timbul karena berbagai faktor, mulai dari lalu lintas padat, transportasi umum yang penuh sesak, suhu ruang yang panas, hingga desain lingkungan yang tidak nyaman.

Kondisi perjalanan yang tidak kondusif dapat menimbulkan rasa lelah, frustrasi, bahkan marah tanpa sebab. Dalam jangka panjang, hal ini tidak hanya mengganggu produktivitas kerja, tetapi juga berdampak pada kesehatan secara keseluruhan.

Ahli psikologi transportasi menyebut, commuting stress tidak hanya menyerang kesehatan mental, tetapi juga berdampak langsung pada kualitas hidup dan kondisi fisik seseorang. Berikut beberapa dampak yang umum terjadi:

Kurang Tidur dan Kelelahan Kronis
Waktu tempuh yang panjang membuat seseorang memiliki waktu istirahat lebih sedikit. Akibatnya, kualitas tidur menurun, tubuh menjadi cepat lelah, dan konsentrasi pun terganggu. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memicu insomnia dan gangguan tidur kronis lainnya.

Tekanan Emosional
Rasa lelah, sesak, dan jenuh saat bepergian dapat memicu ledakan emosi. Seseorang bisa menjadi lebih mudah marah, cemas, atau bahkan mengalami gejala depresi ringan. Kondisi ini berhubungan erat dengan penurunan motivasi kerja dan meningkatnya kelelahan mental.

Pola Makan Tidak Sehat

Stres akibat perjalanan juga sering memengaruhi pola makan. Banyak pekerja yang akhirnya memilih makanan cepat saji atau camilan tinggi gula untuk mengatasi stres sementara. Padahal, pola makan buruk dapat menurunkan energi, meningkatkan berat badan, dan memperburuk kondisi mental karena kurangnya asupan nutrisi bagi otak.

Tampilan Utama