Kehadiran kucing menjadi keuntungan bagi manusia, karena mereka membantu menyingkirkan hama tanpa menuntut imbalan apa pun.
Sejak saat itu, manusia dan kucing hidup berdampingan dengan harmonis, bahkan ikut berpindah bersama manusia yang hidup nomaden.
Puncak kedekatan manusia dan kucing tercermin jelas dalam peradaban Mesir kuno. Di sana, kucing bukan sekadar hewan pembasmi tikus, tapi juga dijadikan simbol keberuntungan dan perlindungan.
Orang Mesir menganggap kucing memiliki kekuatan magis yang bisa membawa keberkahan bagi rumah tangga.
Tak heran jika mereka diberi perhiasan, disajikan makanan mewah, dan bahkan diabadikan dalam karya seni. Saking dihormatinya, membunuh seekor kucing di Mesir kuno bisa berujung pada hukuman mati.
Kucing milik kalangan bangsawan bahkan mendapatkan perlakuan istimewa setelah mati. Mereka dimakamkan secara layak, lengkap dengan proses mumifikasi layaknya manusia.
Sebagai tanda berkabung, sang pemilik akan mencukur alisnya. Ini menunjukkan betapa dalamnya ikatan emosional antara manusia dan kucing pada masa itu.
Dalam mitologi mesir kuno, kucing juga punya tempat tersendiri. Di Mesir, ada dewi Bastet, pelindung rumah, wanita, dan anak-anak, yang digambarkan berwujud kucing.
Di Yunani, kucing dikaitkan dengan dewi Hecate yang bisa berubah rupa menjadi kucing. Sedangkan di mitologi Nordik, dewi cinta Freya dikisahkan menaiki kereta yang ditarik dua kucing abu-abu pemberian Thor.
Dalam kepercayaan Tiongkok, Dewa Li Shou bahkan dipuja sebagai pelindung rumah dan tanaman dari serangan tikus.
Seiring waktu, peran kucing berubah dari penjaga lumbung dan simbol kesakralan menjadi teman manusia di rumah.

