HOLOPIS.COM, JAKARTA – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu diminta untuk bisa menahan diri untuk menghormati kesepakatan gencatan senjata di Jalur Gaza. Permintaan itu disampaikan Wakil Presiden AS JD Vance.
JD Vance bersama Utusan Khusus AS untuk Timur Tengah Steve Witkoff terbang ke Israel untuk memonitor proses gencatan senjata yang diteken 10 Oktober lalu.
Dikutip Holopis.com dari The Wall Street Journal, AS punya peran penting agar Israel bisa menahan diri. Dalam laporannya, The Wall Street Journal mengutip pejabat Israel dan mediator dari Qatar.
Gencatan senjata antara Hamas dengan Israel harus dijaga untuk menjaga kondisi perdamaian Gaza.
Israel sebelumnya menuding kelompok pejuang Palestina, Hamas yang menyebabkan tewasnya 2 tantara zionis di Gaza Selatan, baru-baru ini. Dari keterangan Pasukan Pertahanan Israel (IDF), dua tentaranya tewas karena serangan warga Palestina di Gaza selatan.
Tak terima, Israel pun kembali memborbardir Gaza. Wilayah di Gaza yang disinyalir jadi tempat persembunyian Hamas jadi sasaran serangan Israel.
Selain itu, Israel yang tak bisa menahan diri Kembali memberlakukan blokade pengiriman bantuan kemanusiaan ke Gaza. Kamp-kamp Palestina turut diserang Israel.
Proses perdamaian di Gaza kembali dicetuskan dengan kesepakatan gencatan senjata yang mulai berlaku pada 10 Oktober.
Kesepakatan gencatan senjata itu dicapai dalam negosiasi selama tiga hari di Sharm El-Sheikh, Mesir. Pihak yang menjadi mediator dalam kesepakatan gencatan senjata ini adalah AS, Qatar, Mesir, dan Turki. Saat negosiasi, perwakilan delegasi dari Israel dan Hamas turut hadir.

