HOLOPIS.COM, NTT – Jesen (11), seorang bocah Kelas VI SDI Jaong, asal Desa Jaong, Kecamatan Satarmese, Kabupaten Manggarai, yang terseret sungai ditemukan meninggal dunia. Korban ditemukan sudah tak bernyawa setelah terseret arus di sungai Wae Muntung gegara luapan air sungai yang sangat deras pada saat pulang sekolah.
Salah satu keluarga Korban, Libertus Mali (38) mengungkapkan rasa sedihnya karena peristiwa yang menimpa keponakannya akibat luapan sungai Wae Muntung tersebut.
Ia menjelaskan, kondisi desa Jaong sangat rawan ketika musim hujan tiba. Hal itu karena belum terbangunnya jembatan antara wilayah di sekitar sungai Wae Muntung.
“Setiap kali musim hujan tiba, anak-anak sekolah harus bertaruh nyawa untuk pergi dan pulang sekolah, karena melintas di sungai Wae Muntung yang tidak ada jembatannya, lebih parah lagi ketika air sungai meluap,” kata Libertus Mali kepada Holopis.com, Rabu (22/10/2025).
Liberty berharap agar peristiwa ini menjadi perhatian serius bagi pemerintah daerah, lebih khusus Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), yakni dengan segera membangun jembatan di Sungai Wae Muntung.
“Empat Sungai di Desa Jaong harus diperhatikan serius oleh pemerintah Provinsi NTT, di antaranya; Sungai Wae Rani, Sungai Wae Muntung, Sungai Wae Ponting dan Sungai Wae Kea. Karena keempat Sungai tersebut merupakan penghubung antara Desa Jaong dengan sejumlah wilayah di sekitarnya,” jelasnya.
Sekadar diketahui Sobat Holopis, bahwa kasus meninggalnya Jesen terjadi pada hari Selasa, 14 Oktober 2025 pekan lalu saat ia pulang dari sekolah, dan melintas di sekitar sungai Wae Muntung.
Tidak hanya itu, Tokoh pemuda desa Desa Jaong, Igen Padur mendesak Gubernur NTT Melki Laka Lena (Emanuel Melkiades Laka Lena) untuk segera merepons dan menindaklanjuti harapan warganya dengan membangun jembatan permanen demi mencegah jatuhnya korban jiwa di masa mendatang.
Ia menilai sudah saatnya pemerintah bertindak cepat, bukan hanya menunggu musibah. “Kejadian tragis yang menimpa bocah Kelas VI SDI di Desa Jaong tersebut bukan sekadar musibah alam, tetapi mencerminkan kelalaian pemerintah dalam memenuhi hak dasar masyarakat,” kata Igen Padur.
Menurutnya, jembatan bukanlah bentuk kemewahan, tetapi kebutuhan mendasar yang sama pentingnya dengan kebutuhan hidup lainnya. Ketiadaan jembatan membuat masyarakat hidup dalam ketakutan setiap kali hujan deras tiba. Sungai yang membelah desa berubah menjadi ancaman mematikan, terutama bagi anak-anak sekolah, para petani, hingga tenaga kesehatan.
“Setiap hujan deras adalah teror. Kami menuntut hak untuk merasa aman di tanah sendiri,” ujarnya.

