HOLOPIS.COM, JAKARTA – Ekosistem ekonomi kreatif (Ekraf) Indonesia baru saja mendapat suntikan vitamin kelas dunia. Menteri Ekraf, Teuku Riefky Harsya, menggebrak dengan mengumumkan kolaborasi strategis dengan universitas elite Inggris, King’s College London (KCL), dalam upaya menyulap Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Singhasari menjadi mercusuar talenta dan riset digital kreatif global.
Alih-alih sekadar membahas kurikulum, fokus utama audiensi ini adalah bagaimana sinergi dunia pendidikan, riset, dan industri dapat mendorong visi ambisius Indonesia: menjadikan kontribusi Ekraf mencapai 8% terhadap PDB nasional, jauh di atas rata-rata global 3,95%.
KEK Singhasari merupakan bagian krusial dari inisiatif pemerintah dalam mendorong percepatan ekonomi kreatif digital nasional. Kawasan ini tidak hanya berfungsi sebagai hub infrastruktur, melainkan dirancang sebagai pusat inovasi dan kolaborasi lintas sektor mencakup pendidikan, riset, dan industri kreatif yang diyakini akan menjadi mesin baru pertumbuhan ekonomi, dimulai dari daerah.
Menteri Riefky Harsya melihat King’s College sebagai kesempatan besar untuk memperkuat ekosistem Talenta Ekraf yang menjadi salah satu kluster prioritas Kementerian Ekraf, menjadikan KEK Singhasari sebagai proving ground atau tempat uji coba penerapan pengetahuan ini.
Kolaborasi ini dirancang untuk menjadi lebih dari sekadar program akademik konvensional, melainkan kemitraan yang langsung menyentuh kebutuhan industri nyata. Pendekatan yang berpusat di KEK Singhasari ini memastikan talenta muda Indonesia bisa langsung menghadapi tantangan nyata di lapangan, mengubah kawasan tersebut menjadi laboratorium inovasi terdepan.
“Kami ingin mengembangkan berbagai model kolaborasi, tidak hanya pada jenjang magister, tetapi juga pelatihan jangka pendek, riset terapan, hingga pertukaran mahasiswa dan dosen,” tegas Menteri Riefky.
King’s College London, dengan Faculty of Arts and Humanities yang bertengger di peringkat ke-17 dunia (versi QS World University Rankings), tidak datang dengan tangan kosong. Simon Tanner, Executive Dean Faculty of Arts and Humanities, menegaskan bahwa mereka hadir sebagai mitra sejajar yang ingin berkonsultasi dan belajar bersama.
KCL membawa keunggulan unik berupa keahlian mendalam dalam Kecerdasan Buatan (AI) dan Etika Digital. Dengan lebih dari 20 peneliti senior lintas disiplin yang fokus pada penerapan AI dalam konteks sosial dan budaya, KCL menawarkan jembatan pengetahuan vital.
“Kami melihat Indonesia sebagai mitra penting untuk menjembatani riset, teknologi, dan kebudayaan dalam ekosistem kreatif global,” ujar Simon Tanner.
Komitmen ini bukan isapan jempol. Program MSc Digital Economies yang telah memasuki cohort ketiga pada September 2025, dengan peserta dari LPDP, BUMN, dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur, menjadi bukti keseriusan KCL mendukung agenda Indonesia.
Kerja sama ini juga merupakan bagian integral dari perjanjian bilateral UK-Indonesia Growth Partnership Agreement, di mana industri kreatif dan budaya menjadi salah satu prioritas utama Inggris. KEK Singhasari diposisikan untuk menjadi jangkar yang memperkuat kapasitas riset dan pendidikan digital kreatif kedua negara.


