JAKARTA – Indonesia kembali mencatat sejarah penting dalam industri pertambangan nasional. CEO Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara Indonesia (Danantara Indonesia), Rosan Roeslani, mengumumkan bahwa Freeport-McMoRan resmi menyetujui pelepasan 12 persen sahamnya ke Indonesia secara gratis alias tanpa dipungut biaya.
“Mereka sudah setuju untuk 12 persen,” kata Rosan Dalam keterangannya yang dikutip Holopis.com, Rabu (1/10/2025).
Keputusan ini didapat usai Rosan bertemu langsung dengan Chairman Freeport-McMoRan Richard Adkerson dan CEO Kathleen Quirk di Amerika Serikat. Menariknya, Indonesia awalnya hanya menargetkan 10 persen saham, tetapi hasil negosiasi menghasilkan lebih besar, yakni 12 persen free of charge.
Tak hanya itu, Freeport juga sepakat untuk membangun dua universitas dan dua rumah sakit di Papua, dekat dengan area operasionalnya. Fasilitas tersebut diharapkan dapat meningkatkan kualitas pendidikan dan layanan kesehatan, khususnya dalam mendukung ketersediaan tenaga dokter di wilayah tersebut.
Divestasi ini merupakan salah satu syarat perpanjangan Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) Operasi Produksi Freeport yang berlaku hingga 2041. Berdasarkan PP Nomor 25 Tahun 2024, perusahaan tambang asing wajib melepas minimal 10 persen saham baru yang tidak terdilusi kepada BUMN sebelum izin diperpanjang.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa saham hasil divestasi tersebut tidak hanya akan masuk ke pemerintah pusat, tetapi juga sebagian diberikan kepada BUMD Papua.
Dengan kesepakatan ini, kepemilikan saham Indonesia di PT Freeport Indonesia (PTFI) akan meningkat signifikan, dari 51 persen saat ini menjadi 63 persen pada 2041.
Kesepakatan tersebut dianggap sebagai deal bersejarah, tidak hanya memperkuat kontrol Indonesia atas sumber daya mineral strategis, tetapi juga menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat Papua melalui pembangunan infrastruktur pendidikan dan kesehatan.


