“Galih” dan “Arya” Tiba di Bali, Awal Baru Konservasi Satwa Langka

24 Shares

GIANYAR – Satu spesies endemik yang terancam punah, Perkici Dada Merah (Trichoglossus forsteni mitchellii), akhirnya kembali menginjakkan kakinya di tanah air setelah menempuh perjalanan jauh dari Inggris.

Kepulangan dramatis satwa yang masuk kategori Endangered (EN) versi IUCN ini disambut dengan peresmian Lorikeet Breeding Center di PT. Taman Safari Indonesia III, atau yang dikenal sebagai Taman Safari Bali. Pusat penangkaran ini diresmikan oleh Direktur Konservasi Spesies dan Genetik (Direktur KSG), Nunu Anugerah, S.Hut., M.Sc., mewakili Dirjen KSDAE, Kementerian Kehutanan.

- Advertisement -Hosting Terbaik

Momentum peresmian ini bukan sekadar seremoni, melainkan penyambutan resmi bagi sepasang Perkici Dada Merah yang berhasil direpatriasi proses pemulangan satwa ke habitat asalnya. Pasangan indukan ini bahkan telah diberi nama yang sarat makna: “Galih” dan “Arya”, sebagai simbol lahirnya generasi baru yang kelak akan dilepasliarkan ke alam liar.

Program repatriasi yang digagas oleh kolaborasi sinergis antara Taman Safari Indonesia, World Parrot Trust, dan Paradise Park ini, didukung penuh oleh Balai KSDA Bali dan Kementerian Kehutanan. Inisiatif ini menegaskan bahwa konservasi satwa liar tidak bisa dilakukan secara tunggal, melainkan harus melibatkan jejaring global.

- Advertisement -

Dalam sambutannya, Direktur KSG, Nunu Anugerah, menekankan bahwa Lorikeet Breeding Center adalah bukti nyata komitmen pemerintah dan mitra strategis dalam menyelamatkan satwa endemik. Ia menambahkan bahwa upaya ini juga ditujukan untuk edukasi publik dan mendorong ekonomi berkelanjutan melalui penangkaran yang sistematis.

“Repatriasi Perkici Dada Merah ini sangat strategis. Pusat pengembangbiakan terkontrol ini kami harapkan dapat menjadi sumber dukungan populasi ex-situ (penangkaran) untuk program pelepasliaran ke habitat alaminya (in-situ),” tegas Nunu.

Perkici Dada Merah adalah satwa liar yang dilindungi oleh Undang-Undang, dan populasinya terancam serius akibat tingginya perdagangan ilegal serta perusakan habitat. Kepulangan “Galih” dan “Arya” diharapkan dapat memperkuat stok genetik untuk wilayah Bali dan Lombok.

Founder Taman Safari Indonesia, Jansen Manansang, turut menyampaikan harapannya. “Pusat ini dirancang untuk mendukung program pengembangbiakan terkontrol yang berorientasi pelepasliaran. Harapan kami, hutan-hutan di Bali dan Lombok akan kembali semarak oleh suara Perkici Dada Merah,” ujar Jansen.

Acara yang turut dihadiri oleh Kepala Balai KSDA Bali, Perwakilan Pemerintah Provinsi Bali, akademisi, dan mitra konservasi lainnya, ditutup dengan penayangan film dokumenter perjalanan repatriasi yang penuh tantangan.

Penghargaan pun diberikan kepada PT. TSI III Gianyar dari Dirjen KSDAE atas inisiatif kolaborasi konservasi ini. Dengan tagline ikonik “Kedis Mewali ke Bali” (Burung Kembali ke Bali), seluruh pihak menegaskan komitmen bersama untuk menjaga satwa kebanggaan nusantara demi masa depan yang lebih lestari.

- Advertisement -
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
24 Shares
💬 Memuat kolom komentar Facebook...
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut

Berita Terkait

Berita Terkait

Berita Terbaru

holopis