Pengamat Ridlwan Prihatin, Narasi ‘Geng Solo’ Ganggu Citra Damai Kota Solo
JAKARTA - Pengamat Intelijen dan Terorisme Ridlwan Habib merasa prihatin terhadap kota Solo, lantaran warga atau pejabat di sana tidak memberi komentar terkait istilah "geng Solo" yang muncul di kalangan publik pasca terjadi kerusuhan aksi demonstrasi beberapa waktu lalu.
“Di sini saya juga agak miris ya ketika geng Solo, geng Solo, geng Solo begini terus teman-teman yang tinggal di Solo ini enggak komentar gitu loh,” kata Ridwan, seperti dikutip Holopis.com dalam kanal YouTube Zulfan Lindan Unpacking Indonesia, pada Minggu (14/9).
Menurutnya, isu tersebut mulai mengganggu citra Kota Solo yang dikenal sebagai kota damai dengan sejarah panjang dan warisan budaya penting seperti Mangkunegara, Hamengkubuwono, dan keraton.
“Menurut saya, ini kan juga sudah mulai membahayakan nama baik Solo sebagai sebuah kota. Kota yang damai, kota yang punya sejarah panjang di situ. Ada sekarang Mangkunegara, ada sejarah hamengkubuwono, ada sejarah keraton,”
Ia menuturkan, ada sebuah narasi atau framing yang dibuat dengan niat jahat dan berbahaya, yang mencoba untuk memecah belah kelompok kekuatan politik Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) yang kini tinggal dan menetap di Solo.
Kata dia, framing ini menyinggung hubungan antara Jokowi dan Wakil Presiden Prabowo. Dimana Wakil Presiden Prabowo, yakni Gibran Rakabuming Raka merupakan anak sulung Jokowi.
“Ini framing yang jahat dan sangat berbahaya, kenapa? Karena kemudian seolah-olah si pembuat framing ini ingin membenturkan kelompok kekuatan Presiden Jokowi yang tinggal di Solo. Yang kebetulan anaknya adalah Mas Gibran Rakabuming Raka yang menjadi Wakil Presidennya Pak Prabowo,” tuturnya.
Ridlwan juga mengungkapkan bahwa kedua belah pihak, yakni Jokowi dan Prabowo yang sebelumnya dikabarkan berada di posisi berseberangan ternyata justru memiliki pandangan yang sejalan dan berada dalam satu barisan.
“Lalu kemudian dinarasikan bahwa dua ini sedang bersebrangan. Padahal faktanya kan tidak. Faktanya mereka inline, sedang dalam satu barisan,” ungkapnya.
Lantas, ia pun menceritakan fenomena yang sempat terjadi saat Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka menghadiri acara Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1447 Hijriah, pada Kamis 04 September 2025 lalu. Dimana anak sulung Jokowi itu mengenakan pakaian batik berwarna coklat sendirian, sedangkan yang lainnya menggunakan baju berwarna putih.
“Lalu kemudian dinarasikan tuh, “Wah nih benar nih enggak kompak nih, tengahnya ada Teddy”. Terus semuanya pakai baju putih tapi Gibran pakai baju batik,” terangnya.
Melihat fenomena itu, Ridlwan menegaskan agar narasi-narasi seperti ini yang dapat menimbulkan perpecahan antar pemimpin harus segera dihentikan. Hal ini dilakukan lantaran bangsa Indonesia membutuhkan kesatuan dan sinergi dari para pemimpin untuk menghadapi berbagai tantangan di masa yang akan datang.
“Ini kan narasi-narasi yang dalam situasi hari ini harus dihentikan. Kenapa? Karena ini butuh kekompakan para pemimpin,” tegasnya.
Bahkan, ia menduga adanya pihak-pihak yang sengaja memprovokasi dan membenturkan narasi konflik tersebut di antara para pemimpin demi mencapai tujuan tertentu, yang kemudian muncul distraksi atau pengalihan perhatian terhadap masyarakat dari isu-isu yang sebenarnya terjadi di Indonesia.
“Kalau kemudian narasinya ini terus dibentur-benturkan, menurut saya jangan-jangan justru dalam helikopter view di atas ini dalang utamanya ini memang tujuan utamanya jangan-jangan begitu. Ingin membenturkan itu yang ingin membenturkan itu, sehingga kemudian muncul distras,” imbuhnya.