JAKARTA – Aktivis sekaligus Relawan Jokowi Lovers Krisyanto Yen Oni merasa kecewa lantaran tidak diberi kesempatan untuk menyampaikan pendapat yang dinilai dapat mewakili suara elemen masyarakat terkait Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi).
Hal ini disampaikannya dalam podcast yang diunggah pada kanal YouTube Zulfan Lindan Unpacking Indonesia, pada Minggu (14/9).
“Saya menyayangkan sekali. Saya diundang tapi enggak dikasih kesempatan untuk menyampaikan opini saya, pandangan saya yang diakui oleh mayoritas rakyat akar rumput,” kata Krisyanto, seperti dikutip Holopis.com dalam kanal YouTube Zulfan Lindan Unpacking Indonesia, Senin (15/9).
“Pikiran-pikiran saya ini mewakili mereka. Saya enggak dikasih kesempatan untuk mengutarakan pikiran saya, pandangan saya. Bagaimana pandangan mayoritas rakyat Indonesia terhadap Ir. H. Joko Widodo ini,” lanjutnya.
Dalam diskusi bertajuk “Rakyat Bersuara” yang berlangsung lebih dari empat jam, ia harus menyela pembicaraan lawan bicaranya dan mengambil alih waktu bicara agar bisa menyampaikan pendapatnya.
“Jadi, sepanjang 4 jam lebih ketika itu, kalau saya enggak berinisiatif untuk motong pembicaraan orang, merampas waktu,” ungkapnya.
Lantas, Krisyanto pun merasa dirinya sengaja dihadirkan dalam acara tersebut hanya sebagai pajangan yang bertujuan untuk dipermalukan. Ia juga menduga adanya niat dari pihak penyelenggara acara itu agar dirinya di framing negatif dalam hal ini.
“Mungkin saya itu dihadirkan di situ hanya untuk pajangan, untuk menjadi tontonan untuk dipermalukan. Mungkin saja mereka punya konsep berpikir begitu. Hingga akhir-akhir itu saya akan di framing,” tegasnya.
Ia mengatakan sempat bingung dan tidak bisa berbicara dengan leluasa saat berhadapan dengan narasumber yang dianggap lebih hebat.
Dalam perspektifnya, Krisyanto mengungkapkan bahwa ada pihak lain yang mungkin berharap bisa membingkai dirinya dengan cara seperti itu, yaitu memperlihatkan dirinya sebagai sosok yang tidak berdaya atau tidak mampu menyampaikan argumen di muka publik.
“Saya dihadirkan di rakyat bersuara. Tapi saya ngap-ngapan, saya planga plongo. Enggak bisa bersuara apa-apa, enggak bisa bicara apa-apa ketika berhadapan dengan orang-orang hebat. Saya pikir mungkin mereka berharap akan bisa nge framing saya seperti itu,” tuturnya.


