Minggu, 22 Feb 2026
BREAKING
Minggu, 22 Feb 2026
MEMUAT...
-- --- ----
00:00:00
...
-- ...
Imsak 00:00
Subuh 00:00
Dzuhur 00:00
Ashar 00:00
Maghrib 00:00
Isya 00:00

Bansos Bisa Jadi Toxic Charity, Ini Efek Sampingnya Menurut Restorasi Jiwa Indonesia

14 Shares

Syam Basrijal pun mengajak semua orang untuk lihat contoh sederhana. Di mana ketika ada seorang pemuda yang gagal melanjutkan sekolah, maka dengan memberi sembako memang bisa membantu, namun hanya menunda lapar sehari. Tetapi mengajarinya membaca potensi diri, mengelola emosi, dan menyalurkan kreativitas akan memberinya bekal seumur hidup.

“Inilah yang membedakan toxic charity dengan pemberdayaan sejati: yang satu meninabobokan, yang lain membangunkan,” ucap Syam Basrijal.

- Advertisement -

Dalam praktik yang lumrah terjadi di pedesaan. Banyak komunitas yang dijadikan objek bantuan instan, tetapi tetap miskin bertahun-tahun. Mengapa demikian, karena yang mereka terima adalah belas kasihan, bukan pengetahuan. Maka dari itu, Syam Basrijal menyatakan bahwa Restorasi Jiwa Indonesia memilih jalan lain, yakni melatih masyarakat membaca dirinya, membangun pola pikir produktif, dan menyalakan mental pemenang. Dari sini lahirlah martabat, bukan sekadar kenyang sesaat.

“Pemenang sejati bukanlah mereka yang tak pernah jatuh, melainkan mereka yang berani bangkit dengan kesadaran baru. Jiwa pemenang tidak mengemis simpati, melainkan mencipta jalan. Jiwa pemenang tidak pasrah menunggu keadaan berubah, melainkan mengubah keadaan dengan daya juangnya. Dan inilah generasi yang ingin kami bangun: generasi dengan mental kaya, yang melihat dunia bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai peluang,” paparnya.

- Advertisement -

Terakhir, Syam Basrijal menyebut jika toxic charity terus dipelihara, maka bangsa ini lambat laun akan terjebak dalam lingkaran ketergantungan tanpa ujung. Namun apabila literasi jiwa dan mental pemenang ditanamkan, kita akan melihat lahirnya generasi yang berani bermimpi besar, teguh berjuang, dan percaya pada kekuatan dirinya. Generasi ini tidak menunggu belas kasihan, melainkan menyalakan jalan baru dengan kesadarannya.

“Restorasi Jiwa Indonesia percaya: belas kasihan boleh ada, tetapi harus menjadi pintu menuju kesadaran, bukan jerat yang mematikan. Bantuan boleh diberikan, tetapi harus disertai pendidikan jiwa agar orang berani mandiri. Karena tujuan kita bukan merawat korban, tetapi membangunkan pemenang,” tukasnya.

“Maka saya tegaskan: toxic charity adalah racun yang harus dihentikan. Bangsa ini tidak butuh lebih banyak penonton yang pasrah, tetapi jiwa-jiwa pemenang yang berani berdiri. Restorasi Jiwa Indonesia hadir untuk menyalakan kesadaran itu—bahwa kemerdekaan sejati bukan datang dari belas kasihan, melainkan dari jiwa yang sadar, berani, dan penuh daya cipta,” pungkas Syam Basrijal.

- Advertisement -
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
14 Shares
💬 Memuat kolom komentar Facebook...
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut

Berita Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru