Komentar warganet pun beragam, mulai dari menyebut Alex sebagai simbol keharmonisan budaya, hingga menyebutnya sebagai contoh nyata bagaimana seorang pendatang bisa begitu menghargai nilai-nilai lokal.
“Mantap, memanfaatka turis asing sebagai pecalang untuk mengkomunikasikan dengan para bule. Inovatif,” komentar akun @deenanjap.
“Buat pecalang khusus turis aja cocok ne biar gampang untuk menjelaskannya ada upacara dll,” tulis akun @putudicky_95.
Namun, ada beberapa komentar yang mempertanyakan apakah seorang warga negara asing boleh menjadi seorang pecalang atau tidak.
“Bule boleh jadi pecalang ya? Baru tau..” ujar akun @agustrisharyadi.
Namun, dibalik boleh atau tidaknya seorang WNA menjadi seorang pecalang, fenomena “pecalang bule” ini tidak hanya menghibur warganet, tetapi juga sekaligus menunjukkan bahwa adat dan budaya bukan hanya untuk diwarisi, melainkan juga bisa dirangkul oleh siapa saja yang benar-benar mencintainya.


