JAKARTA – Gaza yang menjadi tempat perlindungan terakhir bagi warga di Jalur Gaza utara, dengan cepat berubah menjadi tempat di mana masa kanak-kanak tidak akan dapat bertahan, demikian dikatakan oleh Tess Ingram, manajer komunikasi Dana Anak-Anak PBB (UNICEF) untuk Kantor Regional Timur Tengah dan Afrika Utara, pada Kamis (4/9).
“Gaza menjadi kota yang diliputi ketakutan, pengungsian, dan pemakaman,” kata Ingram dikutip Holopis.com, Jum’at (5/9).
Dunia memperingatkan bahwa serangan militer yang semakin intensif di Gaza dapat mengakibatkan malapetaka besar bagi hampir 1 juta penduduk yang masih bertahan di kota tersebut, ujar Ingram.
“Itu akan menjadi tragedi yang tak terbayangkan, dan kita harus mengerahkan segala daya untuk mencegahnya,” imbuhnya.
Ingram mengatakan bahwa dalam sembilan hari terakhir, dia melihat keluarga-keluarga di Gaza yang melarikan diri dari rumah mereka karena ketakutan. Mereka sudah mengungsi sebelumnya, dan kini harus mengungsi lagi. Mereka datang hanya dengan pakaian yang melekat di tubuh.
“Saya bertemu dengan anak-anak yang terpisah dari orang tuanya dalam kekacauan itu. Ibu-ibu yang anaknya meninggal karena kelaparan. Ibu-ibu yang takut anaknya akan menjadi korban berikutnya. Saya berbicara dengan anak-anak di ranjang rumah sakit, tubuh mungil mereka terkoyak serpihan peluru,” lanjutnya.
Menurut Ingram, hanya 44 dari 92 pusat perawatan gizi rawat jalan yang didukung UNICEF di Gaza yang masih beroperasi, membuat ribuan anak kurang gizi kehilangan lebih dari separuh jalur pertolongan penyelamatan yang mereka butuhkan untuk melawan kelaparan.
“Tim kami mengerahkan segala daya untuk membantu anak-anak. Namun, kami akan bisa berbuat jauh lebih banyak, menjangkau setiap anak di sini, jika operasi kami di lapangan dapat dilaksanakan secara luas dan jika kami mendapat pendanaan yang memadai,” ujarnya.
“Kehidupan warga Palestina sedang dihancurkan di sini,” tegas Ingram.
Ia juga menekankan bahwa penderitaan anak-anak di Jalur Gaza bukanlah tidak disengaja dan terus menyerukan Israel agar meninjau kembali aturan pelibatan militernya agar anak-anak di Palestina bisa terlindungi, seperti dalam hukum humaniter internasional.

