JAKARTA – Pendiri NII Crisis Center, Ken Setiawan menyampaikan bahwa Rukun Islam bukan sekadar rangkaian ritual ibadah, melainkan sebuah sebuah strategi deklarasi perlawanan kepada penguasa Quraish Mekkah yang saat itu zalim dan menindas rakyat.
“Rukun Islam sebagai strategi perjuangan melawan sistem yang menindas,” kata Ken dalam keterangannya yang diterima Holopis.com, Kamis (21/8/2025).
Ken lalu menafsirkan strategi Rukun Islam dari sudut pandang politik dan sosial, antara lain ; syahadat yang merupakan sumpah terbuka, deklarasi loyalitas melawan kezaliman serta pengakuan kepemimpinan baru Nabi Muhammad yang pro-rakyat.
Kemudian sholat berjamaah. Bahkan dalam bahasa modern kata Ken, shalat adalah kampanye atau sosialisasi sebagai alat komunikasi massal dan pengorganisasian masyarakat, sekaligus penghapus kasta sosial yang dilakukan 5 kali sehari.
Lantas ada pula zakat yang merupakan distribusi pajak kekayaan untuk kesejahteraan rakyat, di mana yang kaya wajib bantu yang miskin.
“Pajak dalam Islam bukan untuk memperkaya penguasa,” tegas Ken.
Selanjutnya adalah puasa, yakni sebuah sarana spiritual untuk latihan solidaritas kelas, bentuk perlawanan terhadap sitem kapitalis dengan berbagi kepada yang membutuhkan. Dan yang terakhir adalah haji, sebuah kongres akbar lintas suku dan bangsa, semua pakai baju yang sama dan menjadi simbol kesetaraan manusia yang perjuangan melawan penindasan.
Oleh sebab itu, dalam rukun Islam, jelas menyimpan sebuah strategi yang mutakhir bagaimana Islam menyatukan umatnya dalam satu visi misi keimanan yang sama.
“Harapannya agar umat beragama bersatu,” tukasnya.
Lebih lanjut, Ken menekankan bahwa ajaran para Nabi sejatinya adalah peta perjuangan untuk melawan penindasan dan memerdekaan manusia, bukan semata ritual ibadah. Jika masyarakat sadar arti sejatinya Rukun Islam tersebut, maka perdebatan tentang agama seharusnya sudah selesai, tak ada lagi kasus intoleransi atas nama agama, sebab musuh para Nabi Nabi terdahulu bukanlah perbedaan agama, tapi para penguasa yang zalim dan menindas.
“Saatnya bergandeng tangan bersama sama memperjuangkan keadilan agar kita dapat hidup sejahtera, rukun aman dan damai, meski berbeda latar belakang agama,” pungkas Ken.

