Connie Singgung Bendera One Piece, Ingatkan Sudewo Jangan Main-main Sama Rakyat

0 Shares

JAKARTA – Pengamat politik, pertahanan dan militer, Connie Rahakundini Bakrie mengingatkan kepada para pemangku kekuasaan, untuk tidak anggap remeh pengibaran bendera one piece.

Karena ia melihat pengibaran bendera tersebut berangkat dari sebuah kesadaran kolektif masyarakat atas sesuatu yang tidak sesuai di Republik Indonesia saat ini.

- Advertisement -

“Ketika ada rasa bersatu karena didzalimi, si One Piece yang cuma kain dan gambar kartun bisa jadi pergerakan,” kata Connie saat ngobrol bareng Hendri Satrio seperti dikutip Holopis.com, Selasa (19/8/2025).

Ia juga pernah mengingatkan melalui instagram pribadinya tentang identitas bendera merah putih di one piece. Ia menyampaikan pesan ini sebagai pengingat kepada para pemimpin bangsa untuk terus memperkuat nasionalisme dengan mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang pro terhadap rakyat.

- Advertisement -

Sebab ketika sampai kebijakan yang cenderung permisih terhadap penindasan rakyat, maka bisa jadi nasionalisme bangsa akan terkalahkan dengan rasa persatuan yang disimbolkan dengan bendera anime dari Jepang tersebut.

“Jangan sampai persatuan merah putih kita kalah sama persatuan orang yang merasa didzalimi tadi. Jadi jangan nyalahin benderanya,” ujarnya.

Bahkan kata Connie, dirinya belum pernah melihat bagaimana kelabakannya aparat Kepolisian saat mengamankan demonstrasi di Pendopo Kabupaten Pati. Di mana rakyat Pati marah kepada Bupati Sudewo karena kebijakan kenaikan pajak PPB P2 sebesar 250 persen, hingga berujung tantangan untuk berdemonstrasi 50.000 orang.

“Aku nggak pernah lihat polisi lari seperti kemarin di Pati. Satu orang berkesadaran akan menggugah sekian juta sadar,” tukasnya.

Sekali lagi, Connie pun mengingatkan bahwa kemarahan rakyat yang masif akan membuat Indonesia kacau. Apalagi jika kemarahan itu merata ke semua wilayah, bahkan aparat Kepolisian pun dijamin tidak akan mampu mengatasinya.

“Berapa penduduk Indonesia, berapa besarnya aparat ?. Satu banding berapa itu? Makanya jangan coba-coba main-main sama rakyat,” sambungnya.

Kasus Pati Bisa Merembet

Lebih lanjut, dosen sekaligus guru besar Hubungan Internasional di Universitas Saint Petersburg Rusia tersebut mengatakan bahwa kasus yang terjadi di Pati sangat mungkin terjadi di seluruh wilayah di Indonesia, apabila kebijakan pemerintah daerah telah mencederai rasa keadilan dan keberpihakan kepada rakyat.

Terlebih di era teknologi informasi yang begitu cepat seperti saat ini, pergerakan di Pati bisa menjadi inspirasi masyarakat daerah lain untuk melakukan hal yang sama. Apalagi kata Connie, kebijakan kenaikan pajak besar tidak hanya terjadi di Kabupaten Pati saja.

“Sangat bisa apalagi kalau kita bicara sosial media,” tuturnya.

Di sisi lain, ia mendengar kabar bahwa Sudewo sempat berani dan nekat mengambil kebijakan kenaikan pajak PBB P-2 karena belajar dari Joko Widodo, di mana pernah menaikkan pajak pendapatan (PPN 12 persen) ketika menjadi Presiden Republik Indonesia.

“Aku nggak ngerti dia naikkan pajak 250%. Tapi katanya dia belajar dari Jokowi waktu naikin pajak Jakarta, yang dia lupa ngukur Jakarta itu berapa kemampuannya sama Pati,” tukasnya.

Ditambah lagi, sikap arogansi Sudewo pun semakin memperuncing kemarahan masyarakat Pati hingga terjadilah gelombang demonstrasi dan berpuncak pada tanggal 13 Agustus 2025 lalu di depan pendopo Kabupaten Pati, Jawa Tengah.

“Waktu ada sumbangan logisktik minum, sok diambilin lagi kan. Nah gitu, itu kan sumbangan dari rakyat, itu kan lebih parah dari kompeni, ya marah lah rakyat,” tandasnya.

Oleh sebab itu, sebagai pribadi ia menyarankan kepada Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka yang diduga memiliki kedekatan tersendiri dengan Bupati Sudewo, agar jangan sekali-kali lagi melakukan hal serupa di kemudian hari.

Sekaligus ia berpesan kepada pemerintah daerah yang lainnya agar benar-benar menjadikan sikap Sudewo sebagai pelajaran yang sangat berharga agar masyarakat di wilayah mereka tidak pecah seperti di Pati.

“Mas Gibran, tolong sampaikan sama Bapak yang di Pati itu. Hati-hati sama bendera, karena ketika bendera digerakkan oleh semangat itu menjadi sebuah kekuatan, belajar dari Pati, jangan coba-coba membuat Pati yang lain,” pungkasnya.

- Advertisement -
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
0 Shares
💬 Memuat kolom komentar Facebook...
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut

Berita Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru