Minggu, 22 Feb 2026
BREAKING
Minggu, 22 Feb 2026
MEMUAT...
-- --- ----
00:00:00
...
-- ...
Imsak 00:00
Subuh 00:00
Dzuhur 00:00
Ashar 00:00
Maghrib 00:00
Isya 00:00

Kemerdekaan Batin di Usia 80 Tahun Indonesia Jadi Refleksi untuk Masa Depan Bangsa

0 Shares

Oleh sebab itu, Syam mengajak seluruh elemen bangsa Indonesia untuk bersama-sama membangun fondasi kemerdekaan batin melalui empat pilar kesadaran yang saling terkait. Pertama, kesadaran akan nilai, yakni kemerdekaan sejati yang berdiri di atas integritas tanpa kompromi dan menolak segala bentuk manipulasi, korupsi, serta penyelewengan meski ada janji kekuasaan atau keuntungan di baliknya.

Kedua, kesadaran akan kebersamaan, yang menempatkan Indonesia sebagai satu tubuh di mana luka satu bagian adalah luka seluruh tubuh, sehingga perbedaan suku, agama, bahasa, dan pandangan politik harus diletakkan dalam bingkai persatuan. Ketiga, kesadaran akan batas, yaitu saling menghormati hak orang lain dan menjaga ruang bersama, dengan memahami bahwa kebebasan seseorang berhenti di titik kebebasan orang lain dimulai.

- Advertisement -

“Keempat, kesadaran akan tanggung jawab, di mana kemerdekaan dipandang sebagai amanah yang harus dirawat terus-menerus, bukan sekadar hadiah yang dirayakan sesaat,” lanjutnya.

Syam juga menyoroti pentingnya membangun infrastruktur jiwa yang terdiri dari kejujuran, empati, dan solidaritas, yang selama ini sering terlupakan di tengah fokus pembangunan infrastruktur fisik seperti jalan, pelabuhan, dan gedung pencakar langit. Tanpa fondasi jiwa yang kuat, ia memperingatkan bahwa kemerdekaan akan menjadi rapuh dan bendera hanya berkibar di tiang, bukan di hati.

- Advertisement -

Oleh karena itu, pembangunan infrastruktur jiwa berarti mendidik anak-anak untuk berpikir kritis namun penuh empati, melatih para pemimpin agar mau mendengar suara rakyat tanpa menutup telinga terhadap kritik, serta mengukur kemajuan bangsa tidak hanya dari angka produk domestik bruto (PDB), tetapi juga dari kualitas kepercayaan sosial, tingkat keadilan, dan ketangguhan moral.

Lebih jauh, Syam menyatakan bahwa kemerdekaan batin juga berarti merdeka untuk memaafkan, bukan karena kelemahan, melainkan sebagai cara agar tidak terikat oleh beban masa lalu. Kemerdekaan batin juga membuka ruang untuk berkolaborasi lintas perbedaan, bukan karena kesamaan, tetapi karena memahami bahwa perbedaan adalah bahan bakar inovasi dan kekuatan kolektif bangsa.

“Kemerdekaan batin juga berarti merdeka untuk memaafkan, bukan karena kita lemah, tetapi karena kita tidak ingin terikat pada beban masa lalu,” paparnya.

Menghadapi usia 80 tahun, Syam menekankan bahwa momentum ini adalah masa transisi menuju perayaan 100 tahun kemerdekaan Indonesia pada 2045. Dua dekade ke depan akan menjadi ujian penting apakah bangsa mampu menyatukan pembangunan fisik dengan pembangunan batin. Ia mengajukan pertanyaan penting: apakah Indonesia akan dikenang sebagai bangsa yang hanya megah di infrastruktur namun kehilangan hati, atau sebagai bangsa yang berdiri tegak karena memiliki jiwa yang bersih dan utuh?

Maka dari itu, Syam Basrijal pun mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk menjaga agar bendera merah putih tetap berkibar di hati, bukan sekadar di tiang sebagai sarana seremonial semata.

“Merdeka untuk mencintai, merdeka untuk membangun, merdeka untuk menjadi manusia yang utuh,” pungkas Syam Basrijal.

- Advertisement -
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
0 Shares
💬 Memuat kolom komentar Facebook...
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut

Berita Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru