JAKARTA – Nama Alexsandro Alvino saat ini sedang menjadi sorotan publik. Pasalnya, siswa kelas 12 SMA Metta Maitreya di Riau ini, berhasil menembus sistem keamanan NASA hanya 11 bulan setelah belajar keamanan siber.
Awalnya ia tidak pernah menyangka larangan bermain game dari orangtuanya akan menjadi titik awal perjalanan luar biasa tersebut. Waktu yang semula digunakan untuk bermain, ia alihkan untuk mempelajari coding dan keamanan siber.
Perubahan arah tersebut membuahkan hasil besar. Alex berhasil menembus sistem keamanan milik Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) dan mendapat penghargaan resmi dari lembaga tersebut.
Di usianya yang masih belia, ia menjadi hacker etis pertama asal Indonesia yang menerima sertifikat penghargaan dari NASA atas kontribusinya mengungkap celah keamanan di sistem mereka.
Pencapaian ini diraih Alex meski baru mempelajari keamanan siber selama 11 bulan. Ia memberanikan diri mengikuti Vulnerability Disclosure Program (VDP) milik NASA, program resmi yang membuka peluang bagi para ahli keamanan siber untuk melaporkan kerentanan sistem.
Temukan Tiga Celah Keamanan NASA
Selama satu bulan penuh, Alex mempelajari sistem keamanan NASA dan menemukan tiga kerentanan yang masuk kategori P4. Temuan ini membantu NASA memperkuat sistem mereka dan sekaligus menempatkan nama Alex di platform Crowd Stream NASA, berdampingan dengan para pakar keamanan siber dunia.
“Sejauh penelusuran saya, belum ada orang Indonesia yang mendapat penghargaan serupa di kategori ini,” ujarnya seperti dikutip oleh Holopis.com, Selasa (12/8).
Keberhasilannya ini ia anggap sebagai pencapaian berharga, mengingat selama ini ia belum menemukan catatan adanya nama Indonesia dalam daftar penerima penghargaan untuk kategori yang sama.
Bahkan, menurutnya, belum ada yang berhasil meraih tingkat P1 atau kritikal di situs NASA maupun globe.gov.
Dilirik untuk Proyek Audit Sistem
Popularitas Alex meningkat setelah ia membagikan pencapaiannya di LinkedIn. Beberapa institusi pemerintah mulai meliriknya untuk mengerjakan proyek audit keamanan siber. Dalam setiap proyek, jika ia menemukan kerentanan dengan tingkat kritis, pihak pemberi proyek akan memberikan penghargaan atau imbalan.
“Kalau kerentanannya kritis atau sangat krusial, mereka akan memberikan reward, meski sederhana,” kata Alex.
Meski sudah mendapatkan proyek dan penghasilan dari keahliannya, Alex tetap memilih melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Baginya, dunia keamanan siber masih sangat luas untuk dipelajari.


