Bencana Karhutla Hingga Kekeringan Landa Dua Wilayah di Provinsi Sumut
JAKARTA - Sejumlah bencana alam mulai dari karhutla (kebakaran hutan dan lahan) hingga kekeringan melanda sejumlah wilayah di Provinsi Sumatera Utara.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari menjelaskan, untuk bencana karhutla melanda wilayah Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Peristiwa ini terjadi tepatnya di Kelurahan Haranggaol, Kecamatan Haranggaol Horison sejak beberapa hari yang lalu.
"Kebakaran melanda area perbukitan dan menghanguskan sekitar dua hektare lahan," kata Abdul Muhari dalam keterangannya yang dikutip Holopis.com, Senin (4/8).
Abdul menyebut tim BPBD diterjunkan ke lokasi untuk melakukan asesmen lapangan guna mengetahui titik api dan luas area terdampak secara lebih detail.
Dalam upaya penanganan darurat, petugas BPBD juga melakukan pemadaman secara langsung pada area yang dapat dijangkau, guna mencegah perluasan kebakaran lebih lanjut.
"Penanganan cepat yang dilakukan oleh BPBD setempat berhasil meminimalkan dampak lebih luas dari kebakaran tersebut. Dalam peristiwa ini tidak ditemukan korban jiwa," ujarnya.
Kendati demikian, Abdul mengatakan bahwa kerugian materiel ditaksir mencapai sekitar dua hektare lahan yang terbakar, yang sebagian besar merupakan semak belukar di wilayah perbukitan.
"Kondisi terkini, api telah berhasil dipadamkan dan situasi di lokasi kebakaran dinyatakan terkendali," ujarnya.
Sementara itu, di wilayah lain di Provinsi Sumatera Utara, bencana kekeringan akibat musim kemarau juga menimbulkan dampak signifikan, khususnya terhadap sektor pertanian.
Salah satu wilayah yang terdampak cukup signifikan adalah Desa Tangga Bosi III, Kecamatan Siabu, Kabupaten Mandailing Natal. Sungai Patabotung yang menjadi salah satu sumber air utama bagi irigasi di wilayah tersebut mengalami penurunan debit secara drastis, sehingga tidak mampu mengairi lahan pertanian seperti biasanya.
"Kondisi ini menyebabkan sekitar 211 hektare lahan persawahan mengalami kekeringan. Meskipun tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini, para petani terpaksa menghadapi risiko gagal panen yang dapat berdampak pada ketahanan pangan dan perekonomian lokal," jelasnya.
Situasi ini pun mendapat perhatian dari pemerintah daerah dan instansi kebencanaan. Menyadari potensi dampak jangka panjang, pemerintah daerah segera mengambil langkah-langkah awal untuk mengantisipasi risiko lanjutan.
Sebagai bentuk respons cepat, BPBD Kabupaten Mandailing Natal telah melakukan koordinasi dengan pemerintah setempat serta mengerahkan tim ke lapangan untuk melakukan peninjauan langsung ke lokasi terdampak. Tim gabungan melakukan pendataan kondisi kekeringan guna merumuskan langkah-langkah penanganan jangka pendek dan menengah.
"Hingga kini, proses penanganan masih terus berlangsung. Pemerintah daerah bersama BPBD dan instansi terkait tengah menyusun strategi pemenuhan kebutuhan air darurat dan mitigasi risiko gagal panen," tutupnya.