JAKARTA – Gaya hidup generasi muda kini semakin dinamis, seiring derasnya arus informasi dan media sosial. Salah satu fenomena yang paling menonjol dalam beberapa tahun terakhir adalah tren flexing, atau perilaku memamerkan kekayaan dan gaya hidup mewah.
Fenomena ini tak hanya ramai di Indonesia, tetapi juga meningkat pesat secara global, termasuk di Amerika Serikat, dengan angka kenaikan yang mencapai 60 persen.
Flexing bukan sekadar soal memajang barang branded atau pamer liburan ke luar negeri. Di balik tampilan yang terlihat “sukses” itu, terdapat dorongan kuat dari tekanan sosial.
Gen Z tumbuh dalam ekosistem digital yang sangat menekankan validasi sosial lewat jumlah likes, komentar, dan pengikut. Semakin tinggi angka itu, semakin tinggi pula perasaan diterima oleh lingkungan pergaulan daring mereka.
Banyak anak muda merasa perlu menampilkan citra hidup ideal demi mempertahankan eksistensi. Dorongan untuk terlihat “berhasil” kerap mengalahkan kondisi nyata, baik secara finansial maupun emosional.
Gaya hidup ini tak jarang memicu keputusan konsumtif, seperti membeli barang mahal meski belum tentu dibutuhkan, atau mengikuti tren hanya demi terlihat relevan.
Pakar sosial menyebut bahwa budaya flexing adalah bentuk respons dari fear of missing out (FOMO), ketakutan tertinggal tren atau tidak diakui dalam lingkaran sosial. Akibatnya, Gen Z terus terdorong untuk tampil sempurna di dunia maya, bahkan jika harus mengorbankan kesehatan mental atau keuangan pribadi.
Tren ini juga memunculkan fenomena baru: kehidupan palsu yang dikurasi untuk media sosial. Beberapa laporan mengungkap bahwa ada anak muda yang rela mengedit foto agar terlihat seolah sedang berada di konser, tempat hits, atau menginap di hotel mewah, padahal kenyataannya tidak demikian. Tujuannya tetap sama: tampil keren dan diterima.
Psikolog sosial menilai bahwa tekanan semacam ini bisa berdampak jangka panjang. Ketika kehidupan terus dibandingkan dengan orang lain secara visual, muncul risiko perasaan tidak cukup, minder, bahkan depresi.
Anak muda cenderung merasa gagal hanya karena hidupnya tak semewah yang ditampilkan orang lain di media sosial.


