JAKARTA – Eks Staf Khusus Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Era Aburizal Bakrie, Andi Rizal Mallarangeng menanggapi kekhawatiran publik soal potensi terganggunya daya saing produk lokal akibat kesepakatan dagang antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS).
Kesepakatan tersebut memungkinkan produk-produk dari AS masuk ke Indonesia dengan tarif impor nol persen. Kondisi ini dikhawatirkan akan memicu banjir produk impor yang bisa mematikan industri dalam negeri.
Namun, Rizal menilai kekhawatiran tersebut tidak sepenuhnya berdasar. Ia meyakini pembebasan tarif tersebut tidak akan merugikan daya saing produk lokal karena sebagian besar produk AS yang masuk ke Indonesia adalah produk yang tidak memiliki pesaing di pasar domestik.
“Jadi kalau kita bisa produksi misalnya MRI teknologi ya untuk mesin, MRI citi scan bagus dong. Tapi kan kita enggak ada produksi,” kata Rizal dalam podcast di kanal YouTube Freedom Institute, dikutip Holopis,com, Kamis (24/7).
“Jadi kalau kita impor dan kita impor kasih 0 persen kan dia tidak ada saingan domestiknya. Enggak ada juga yang mau dilindungin itu gitu,” tambahnya.
Rizal menyebut, pembebasan tarif impor justru berdampak positif, terutama dalam mendukung sektor kesehatan. Dengan tarif nol persen, alat-alat kesehatan seperti MRI dan CT scan bisa lebih mudah dan murah masuk ke Indonesia, termasuk ke daerah-daerah terpencil yang membutuhkan fasilitas medis.
“Ngapain dipajakin tinggi-tinggi? Ini kan buat kesehatan rakyat, alat-alat kesehatan, begitu banyak yang harus kita impor. Ini rumah sakit di daerah-daerah kan pada tumbuh,” jelasnya.
Ia juga menyoroti keterbatasan anggaran negara dalam memberikan subsidi di sektor kesehatan. Oleh karena itu, pembebasan tarif impor menurutnya bisa menjadi solusi untuk meringankan beban masyarakat.
“Kalau kita enggak bisa bantu (subsidi) ya jangan bebani dengan pajak tambahan. Mereka butuh MRI, mereka butuh citi scan, mereka butuh USG, belum lagi begitu banyak alat kesehatan yang lain,” tuturnya.
Menurut Rizal, kebijakan pemerintah dalam membebaskan tarif impor untuk produk-produk AS yang tidak bisa diproduksi di dalam negeri merupakan langkah yang tepat.
“Jadi sudah benar langkah pemerintah membuka akses pasar kita dari Amerika untuk yang memang kita perlukan,” pungkasnya. (FIT)

