Senior PMII Minta HMI Jangan Baper sama Candaan Cak Imin
JAKARTA - Mantan Ketua Umum PMII (Pegerakan Mahasiswa Islam Indonesia) periode 2004-2006, Anwar Sjani menilai bahwa apa yang diucapkan Muhaimin Iskandar alias Cak Imin dalam kegiatan pelantikan Pengurus Besar Ikatan Alumni (PB IKA) PMII periode 2025–2030 hanya guyonan semata.
Hal ini disampaikan karena situasi sekarang banyak pihak akhirnya gaduh, termasuk dari kalangan rekan-rekan dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).
Menurutnya, kader dan senior HMI tidak perlu tersinggung dengan apa yang telah dilontarkan oleh Cak Imin tersebut. Apalagi ia menilai organisasi "Hijau Hitam" tersebut merupakan organisasi kepemudaan berbasis Islam yang sudah lebih senior.
"Seharusnya disikapi dengan kepala dingin. Sebagai kader HMI, organisasi mahasiswa tertua dan terbesar yang telah berdiri sejak 1947, sudah semestinya kita menunjukkan sikap yang matang, dewasa, dan proporsional," kata Anwar Sjani dalam keterangan persnya yang diterima Holopis.com, Rabu (16/7/2025).
Ia menyebut bahwa HMI telah melahirkan ribuan tokoh bangsa, turut mengawal dinamika politik, sosial, hingga peradaban Indonesia dari masa ke masa. Dengan usia yang jauh lebih senior ketimbang PMII yang baru lahir tahun 1960, ia menilai HMI jauh lebih matang sebagai organisasi.
"Maka, mempermasalahkan kelakar yang jelas-jelas disampaikan dalam konteks internal dan penuh nuansa candaan khas NU, justru menunjukkan ketidaksiapan sebagian dari kita dalam menyaring hal-hal yang substansi dan mana yang bukan," tukasnya.
Sebagai aktivis NU, Anwar Sjani menilai bahwa gaya komunikasi warga Nahdlatul Ulama kerap kali penuh satire, canda, dan spontanitas. Maka ketika dalam konteks itu, ia menegaskan bahwa apa yang disampaikan Cak Imin bukan sebuah penghinaan kepada HMI.
"Candaan Cak Imin bukanlah upaya merendahkan, melainkan refleksi dari pengalaman sosial yang mungkin ia temui," tegasnya.
Oleh sebab itu, ia sangat berharap, HMI tidak mudah baper dan marah dengan apa yang telah dilontarkan oleh Cak Imin dalam forum internal PMII tersebut. Jika HMI marah, ia pun malah mempertanyakan kedewasaan kader-kader organisasi tersebut.
"Jika kita benar-benar percaya bahwa HMI adalah kawah candradimuka yang mencetak kader intelektual dan petarung peradaban, maka reaksi kita seharusnya tidak emosional, apalagi penuh kebencian," sambungnya.
Lebih lanjut, pengurus Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBINU) ini pun menyindir Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam periode tahun 2013-2015 Arief Rosyid yang mencibir Cak Imin.
"Tanggapan yang berlebihan, seperti yang disampaikan oleh Arief Rosyid, Demisioner Ketua Umum HMI, terkesan reaksioner. Padahal menurut hemat penulis, suatu organisasi kemasyarakatan terutama yang melebelkan dirinya organisasi kemahasiswaan termasuk seluruh kadernya memegang teguh nilai dan prinsip, bukan sentimen yang dangkal, terlebih lagi mangajarkan untuk membalas dengan menyebar sentimen balik atau membuka isu lama," tukas Anwar Sjani.
Baginya, seharusnya HMI lebih fokus saja bagaimana menjadikan semua peristiwa sebagai ajang untuk merefleksikan diri agar HMI mampu menjadi organisasi yang lebih matang dan bisa menjadi solusi bagi persoalan bangsa dan negara saat ini.
"Justru momen ini seharusnya menjadi refleksi bagi kita semua. Sudah sejauh mana kader-kader HMI hari ini hadir memberi solusi, bukan hanya terlibat dalam narasi perebutan pengaruh?. Sudah sejauh mana kita mengedepankan kontribusi nyata bagi bangsa, bukan hanya sibuk mencari posisi, pengaruh, atau keuntungan pribadi?," lanjut pria kelahiran Jakarta 18 Oktober 1975 tersebut.
"Karena yang terpenting bukanlah dari mana seseorang memulai perjuangannya. Tapi mau ke mana ia membawa pemikiran, idealisme, dan baktinya," pungkasnya.
Ucapan Cak Imin Singgung HMI
Diketahui, Cak Imin menyebut alumni (PMII memiliki potensi besar untuk mengembangkan sistem ekonomi pasal 33 UUD 1945. Hal itu ia sampaikan dalam acara pengukuhan PB IKA PMII periode 2025-2030 di bawah kepemimpinan Fathan Subchi di Hotel Bidakara Jakarta, Minggu 13 Juli 2025 malam.
"Apa yang terjadi semua itu, semua teori-teori itu ya gudangnya ada di IKA PMII itu. Teori-teori tumbuh dari bawah. Tadi Pak Juri disebut siapa sama Heri Arzumu, membangun dari bawah, tumbuh dari bawah," kata Cak Imin.
Cak Imin pun menyinggung "tetangga sebelah" di Organisasi Cipayung Plus, yakni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Organisasi itu terkena sindiran ala Cak Imin karena sepak terjangnya yang sangat kental dengan kue kekuasaan.
"Nggak ada PMII, nggak tumbuh dari bawah, kalau ada yang tidak tumbuh dari bawah pasti bukan PMII, pasti itu HMI," seloroh Cak Imin.
Mantan Ketua Umum PB HMI Sebut Cak Imin Sesat
Merespons ucapan Cak Imin tersebut, Ketua Umum PB Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) 2013-2015, Muhammad Arief Rosyid Hasan pun menilai bahwa apa yang disampaikan politisi sekaligus Ketua Umum DPP PKB tersebut justru sangat sesat pikir dan menyesatkan.
"Pernyataan Saudara Muhaimin Iskandar dalam acara Pengukuhan PB IKA PMII yang menyebutkan 'Kalau ada yang tak tumbuh dari bawah pasti bukan PMII, pasti itu HMI' adalah pernyataan ahistoris, simplistik dan menyesatkan," tulis Arief Rosyid melalui unggahan di akun Instagram @ariefrosyid.id.
Kemudian, ia pun mengajak seluruh elemen bangsa untuk menempatkan sejarah gerakan mahasiswa secara adil dan proporsional. Dia juga berharap, kekayaan sejarah organisasi tidak dijadikan alat untuk saling menjatuhkan.
"Baik HMI, PMII, PMKRI, GMNI, GMKI, KAMMI dan lainnya, semua telah berkontribusi besar dalam membangun Indonesia," ujarnya.