JAKARTA – Maskeran adalah salah satu bentuk perawatan wajah yang paling sering dilakukan untuk menjaga kesehatan kulit. Dari masker clay, sheet mask, hingga sleeping mask, semua punya manfaat masing-masing untuk membersihkan, menenangkan, atau melembapkan kulit.
Tapi, yang mungkin sering jadi tanda tanya besar Sobat Holopis adalah, mengapa setelah maskeran justru muncul jerawat baru? Bukankah seharusnya kulit jadi lebih bersih?
Kondisi ini cukup umum terjadi, dan banyak orang langsung menyimpulkan bahwa maskernya tidak cocok atau kulit sedang ‘detoks’. Padahal, penyebab jerawat pasca-maskeran lebih kompleks dari sekadar reaksi sementara. Untuk memahami fenomena ini, perlu melihat dari sisi medis dan kebiasaan sehari-hari yang mungkin luput diperhatikan.
1. Reaksi Iritasi Bukan Detoksifikasi
Salah satu mitos yang beredar luas adalah anggapan bahwa munculnya jerawat setelah memakai masker wajah adalah tanda bahwa racun dalam kulit sedang dibersihkan. Dalam dunia dermatologi, istilah ‘detoks’ seperti itu tidak sepenuhnya tepat. Kulit memang memiliki mekanisme regenerasi, tapi jerawat yang muncul biasanya lebih berkaitan dengan iritasi atau ketidakcocokan bahan.
Jika masker mengandung zat aktif seperti AHA, BHA, retinol, atau essential oil tertentu, maka ada kemungkinan kulit mengalami reaksi peradangan ringan. Apalagi jika jenis kulitmu cenderung sensitif, produk yang seharusnya menyehatkan malah bisa memicu iritasi, kemerahan, hingga jerawat.
2. Kebersihan Tangan dan Alat Aplikator Berperan Penting
Mengaplikasikan masker dengan tangan kotor atau menggunakan kuas masker yang tidak pernah dicuci bisa memperkenalkan bakteri langsung ke kulit wajah. Hal ini sering diabaikan, padahal sangat berpengaruh terhadap kondisi kulit pasca-maskeran. Jika pori-pori terbuka saat pemakaian masker, bakteri akan lebih mudah masuk dan menyebabkan jerawat dalam hitungan hari.
Selain itu, menyimpan masker dalam tempat yang tidak higienis atau membiarkannya terbuka terlalu lama juga bisa mengurangi kualitas dan keamanannya. Produk yang sudah terkontaminasi bisa menjadi sarang mikroorganisme yang memicu infeksi ringan di kulit.
3. Tidak Semua Kulit Cocok dengan Masker Tertentu
Setiap jenis kulit memiliki kebutuhan berbeda. Masker yang cocok untuk kulit berminyak belum tentu aman bagi kulit kering atau sensitif. Misalnya, masker clay yang efektif menyerap minyak bisa terlalu keras bagi kulit yang cenderung kering, menyebabkan ketidakseimbangan dan akhirnya muncul jerawat sebagai respon peradangan.
Begitu juga sebaliknya, masker yang terlalu melembapkan bisa menyebabkan penumpukan minyak di kulit berminyak, lalu menyumbat pori dan menghasilkan jerawat. Jadi, penting untuk memahami karakter kulit sebelum memilih jenis masker dan frekuensi pemakaiannya.
4. Bukan Purging Jika Muncul di Area Baru
Istilah purging mengacu pada reaksi kulit terhadap bahan aktif yang mempercepat regenerasi sel. Biasanya, jerawat akan muncul di area yang memang sering bermasalah sebelumnya, dan akan hilang dalam waktu singkat. Tapi jika jerawat muncul di area yang sebelumnya tidak pernah berjerawat, atau disertai rasa perih dan gatal, maka besar kemungkinan itu adalah reaksi iritasi, bukan purging.
Purging biasanya terjadi saat awal penggunaan produk dengan kandungan seperti retinoid atau exfoliating acid. Sementara masker wajah jarang menimbulkan purging karena penggunaannya yang tidak seintensif serum atau krim malam dengan kandungan aktif tinggi.
Jerawat setelah maskeran bukanlah hal yang aneh, tapi bisa menjadi tanda bahwa kulit sedang memberi sinyal ada yang tidak cocok. Daripada langsung menyalahkan produk atau pasrah pada mitos detoksifikasi, lebih baik evaluasi kembali bahan yang terkandung dalam masker, cara pengaplikasiannya, serta kebersihan saat perawatan.

