JAKARTA – Aktivis demokrasi, Muhammad Said Didu menyampaikan bahwa dirinya sangat memaklumi mengapa saat ini Presiden Prabowo Subianto menempatkan TNI di berbagai instansi penting, baik dalam penjagaan di Kejaksaan Agung, hingga menjadi bos di sejumlah perusahaan pelat merah, seperti PT Timah dan Bulog.
Hal ini karena menurut Didu, Indonesia sedang dalam kondisi darurat dari segala lini, sehingga sektor-sektor yang selama ini dinilai sebagai ladang kongkalikong hukum hingga korupsi di dalamnya perlu dijaga dan ditertibkan.
“Saya maklumi karena Indonesia darurat dalam segala hal,” kata Said Didu dalam podcast Close The Door, seperti dikutip Holopis.com, Sabtu (7/6/2025).
Ia pun mengaku pernah ditanya mengapa dirinya tidak protes ketika ada prajurit TNI aktif ditempatkan di perusahaan seperti PT Timah Tbk, dan juga Bulog. Sebab kata Didu, di dua perusahaan itu merupakan ladang korupsi yang sangat tinggi.
“Memang Timah pusatnya korupsi, dan itu perlu orang yang sangat tegas. Bulog memang selama ini hanya sebagai bendera,” ujarnya.
Bagi Didu, mengapa dirinya permisif dengan penempatan prajurit TNI, karena saat ini Indonesia sedang mengalami situasi darurat yang perlu menanganan tegas. Perlu ada orang-orang yang berjiwa nasionalisme dan patriotisme untuk membereskan semuanya.
Ditambah lagi, dalam tugas pokok dan fungsinya, Didu menyebut TNI tidak hanya sekadar penjaga pertahanan semata, melainkan menjaga kedaulatan negara. Sementara penempatan TNI tersebut merupakan langkah yang bisa dimaknai sebagai upaya pemerintah dalam menjaga kedaulatan ekonomi.
“Apakah salah TNI ditempatkan di situ?. TNI sebagai penjaga kedaulatan dan pertahanan, saya menganggap penempatan sekarang itu adalah untuk kedaulatan ekonomi,” tuturnya.
Karena dalam perspektifnya, mantan Sekretaris Menteri BUMN tersebut berpandangan bahwa Prabowo sudah membaca setidaknya persoalan krusial Indonesia adalah seputar tata kelola sumber daya alam yang hanya dinikmati segelintir orang dan oligarki, tidak sampai memberikan manfaat dan kesejahteraan bagi rakyat.
“Bahwa betul-betul kekayaan alam tidak dinikmati oleh rakyat, oleh oligarki. Itu betul-betul darurat,” tegasnya.
Namun demikian, ia masih memiliki harapan besar terhadap sosok Presiden Prabowo. Sebab menurutnya, dia adalah sosok Presiden yang tidak hanya sekadar memiliki kemampuan leadership yang baik, namun juga memiliki ideologi yang jelas.
“Kita bersyukur sekarang punya Presiden yang punya ideologi. Ideologinya untuk kerakyatan nasionalisme. Saya berharap karena Pak Prabowo itu otaknya ultra nasionalisme,” tukas Didu.
Sebab kata dia, hanya sosok yang memiliki kemampuan dan ideologi nasionalisme super tinggi adalah orang yang patut diharapkan mampu mengentaskan semua masalah pelik di Indonesia.
“Nah, memperbaiki bangsa hanya bisa diselesaikan kalau pemimpinnya punya nasionalisme, patriotisme, dan ultra nasionalisme,” pungkas Didu.

