JAKARTA – Israel kembali melakukan serangan setelah mengaku membuka jalur untuk memberikan bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan di Gaza. Tembakan Israel menewaskan sedikitnya tiga warga Palestina dan melukai puluhan orang. Serangan itu dilakukan di Yayasan Kemanusiaan Gaza yang berpusat di Amerika Serikat.
Berdasarkan informasi yang dikutip Holopis.com, Selasa (3/6), pernyataan itu diumumkan oleh Otoritas Kesehatan setempat. Sementara itu militer Israel mengaku mereka sedang menyelidiki secara menyeluruh insiden yang dilaporkan itu.
Dalam sebuah pernyataan, dijelaskan bahwa ada pasukan yang beroperasi di Rafah telah melepaskan tembakan peringatan untuk mencegah beberapa tembakan peringatan. Insiden itu terjadi sekitar 1 km dari lokasi distribusi bantuan.
PBB Terkejut dengan Laporan Terbaru
Sementara itu Sekretaris PBB Antonio Guterres mengatakan bahwa ia terkejut dengan laporan itu, apalagi serangan dilaporkan mengenai warga Palestina yang terbunuh dan terluka ketika mencari bantuan di Gaza.
Tetapi militer Israel membantah bahwa mereka sudah menembaki orang-orang yang berkumpul untuk mengumpulkan bantuan. Kemudian badan penyaluran bantuan yang dipimpin AS, GHF, mengklaim bahwa tidak ada gangguan ketika distribusi dilakukan.
Sekadar informasi, sebelumnya PBB juga sempat mengatakan bahwa seluruh Gaza saat ini terancam mengalami kelaparan. Tak hanya itu, Gaza dinilai sebagai wilayah yang paling kelaparan di dunia saat ini.
Pengiriman bantuan untuk masyarakat Gaza kemudian disebut sebagai pengiriman bantuan yang paling terlambat sepanjang sejarah. Hal tesebut karena pembatasan yang dilakukan oleh Israel.
Kemudian cara pembagian makanan dari Amerika tersebut sudah dikecam oleh para pejabat PBB serta komunitas kemanusiaan lainnya. Mereka mengklaim bahwa lembaga bantuan itu membantu pasukan Israel secara tak langsung untuk mengusir masyarakat Palestina dengan kedok bantuan.

