Selasa, 17 Feb 2026
BREAKING
Selasa, 17 Feb 2026

Apa Itu Brain Rot? Istilah Internet yang Bikin Banyak Bingung Generasi Senior

0 Shares

JAKARTA – Dalam budaya internet modern, istilah brain rot (atau brainrot) mengacu pada jenis konten digital yang dianggap memiliki kualitas atau nilai yang rendah, serta potensi dampak psikologis dan kognitif negatif akibat konsumsinya.

Istilah ini sering digunakan untuk menggambarkan efek merusak dari penggunaan media digital secara berlebihan, khususnya hiburan berdurasi pendek seperti video TikTok atau YouTube Shorts, dan kebiasaan doomscrolling, yakni terus-menerus menggulir berita atau informasi negatif.

- Advertisement -

Fenomena ini dikaitkan dengan menurunnya kesehatan mental, berkurangnya fokus, serta melemahnya kemampuan berpikir kritis, terutama di kalangan Generasi Z dan Generasi Alpha.

Asal-usul dan Perkembangan Istilah Brain Rot

Meskipun kini akrab di era digital, istilah brain rot memiliki sejarah panjang. Menurut Oxford University Press, istilah ini pertama kali muncul dalam buku Walden karya Henry David Thoreau pada tahun 1854, sebagai kritik terhadap menurunnya standar intelektual masyarakat kala itu. Pada tahun 2007, istilah ini mulai digunakan di media sosial seperti Twitter untuk menyindir berbagai bentuk hiburan ringan, termasuk acara kencan, video game, dan aktivitas daring santai.

- Advertisement -

Popularitasnya melonjak drastis pada 2020 melalui platform Discord, dan dari 2023 hingga 2024, penggunaannya meningkat 230% menurut data Oxford. Istilah ini kini erat kaitannya dengan budaya online Generasi Alpha yang sering menggunakan slang seperti ‘rizz’, ‘skibidi’, ‘gyatt’, dan ‘delulu’ dalam keseharian mereka.

Dampak Budaya dan Pengaruh Global

Brain rot bukan hanya menjadi istilah populer, tetapi juga mencerminkan kekhawatiran masyarakat terhadap konsumsi konten digital yang dianggap dangkal dan berlebihan. Pada 2024, istilah ini dinobatkan sebagai Word of the Year oleh Oxford University Press, dengan definisi sebagai ‘penurunan kondisi mental atau intelektual seseorang akibat konsumsi berlebihan terhadap materi (terutama konten daring) yang dianggap remeh atau tidak menantang.’

Istilah ini bahkan digunakan di luar dunia maya, seperti dalam pidato senator muda Australia, Fatima Payman, yang menggunakan bahasa gaul Gen Alpha di parlemen untuk menarik perhatian pada isu sosial digital.

- Advertisement -
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
0 Shares
💬 Memuat kolom komentar Facebook...
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut

Berita Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru