Bencana Banjir dan Tanah Bergerak Landa Kabupaten Ciamis


Oleh : Ronald Steven

JAKARTA - Dua bencana alam bertubi-tubi melanda sejumlah pemukiman warga yang ada di Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari menjelaskan, curah hujan tinggi kembali menimbulkan banjir di wilayah Kabupaten Ciamis.

"Dua kecamatan terdampak cukup parah akibat luapan sungai, yakni Lakbok dan Purwadadi, dengan lahan pertanian serta pemukiman warga ikut tergenang," kata Abdul Muhari dalam keterangannya yang dikutip Holopis.com, Selasa (27/5).

Bencana banjir ini datang berturut-turut, dimulai pada Sabtu malam (24/5) di Desa Sukanagara mengakibatkan satu jalan desa terdampak, dan 150 hektar lahan persawahan terdampak.

Di lokasi lainnya pada Senin pagi (26/5) di Desa Sidarahayu mengakibatkan 20 KK/62 jiwa terdampak, satu jalan desa terdampak dan 253 hektar lahan persawahan terdampak.

Abdul mengatakan, pendataan dampak dan korban masih berlangsung di lapangan oleh tim gabungan dari BPBD, pemerintah desa, dan relawan.

"Melihat kondisi banjir yang belum surut, pemerintah daerah meminta warga untuk lebih waspada, terutama di sekitar aliran sungai, serta segera melapor jika terjadi kenaikan debit air yang membahayakan," ujarnya.

Tak hanya banjir, bencana pergerakan tanah kembali mengancam wilayah Ciamis, tepatnya di Desa Neglasari, Kecamatan Pamarican pada Jumat, (23/5).

Aktivitas ini dipicu oleh hujan berintensitas tinggi dan menjadi kelanjutan dari fenomena serupa. Retakan tanah kembali muncul dan merusak sejumlah rumah warga.

"Total 14 KK terdampak dengan kerugian materil empat rumah terdampak, tujuh rumah rusak ringan dan tiga rumah rusak sedang," tukasnya.

Sebagai bentuk antisipasi dan penanganan, BPBD segera berkoordinasi dengan aparat setempat untuk melakukan penilaian lapangan dan tindakan darurat.

"Penutupan sementara pada retakan dilakukan untuk mencegah meluasnya kerusakan. Saat ini, Kabupaten Ciamis masih dalam status Siaga Darurat Bencana, yang berlaku hingga akhir Mei 2025," terangnya.

Sebagai langkah antisipatif menghadapi peningkatan risiko bencana akibat cuaca ekstrem, Abdul mengimbau masyarakat untuk terus memantau informasi perkembangan cuaca, menghindari aktivitas di area rawan seperti lereng curam dan bantaran sungai saat hujan deras, serta tidak melakukan pembakaran lahan selama musim kemarau.

"Warga juga diingatkan agar segera melaporkan kepada BPBD setempat jika menemukan tanda-tanda potensi bencana, seperti retakan tanah, pohon tumbang, atau kenaikan debit sungai," imbaunya.

Tampilan Utama