JAKARTA – Paparan sinar dari gawai atau perangkat elektronik menjelang tidur bisa mengganggu produksi hormon melatonin pada anak, yang berakibat pada sulitnya anak merasa mengantuk. Hal ini disampaikan oleh dr. Yuni Astria, SpA, dokter spesialis anak lulusan Universitas Indonesia.
“Kalau gawai itu kita berikan sebelum tidur, jangan berharap anak akan tidur atau bahkan mengantuk,” ujar dr. Yuni dalam acara “Tidur Nyenyak Anak Hebat” yang digelar di Jakarta, Kamis (15/5) yang dikutip Holopis.com.
Ia menjelaskan bahwa hormon melatonin merupakan hormon alami yang membantu tubuh merasa mengantuk. Namun, paparan sinar biru dari layar gawai atau lampu terang dapat menekan produksi hormon tersebut.
“Dengan adanya sinar biru, baik dari gawai maupun lampu, produksi melatonin akan terhambat,” tambahnya.
Agar anak bisa tidur dengan nyenyak, dr. Yuni menyarankan orang tua membatasi penggunaan gawai sebelum tidur dan menciptakan suasana kamar yang redup atau gelap.
“Sebaiknya lampu dimatikan atau minimal diredupkan. Karena cahaya bisa menghambat keluarnya melatonin,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan agar orang tua tidak memberikan stimulasi berlebihan pada anak menjelang waktu tidur, seperti bermain aktif atau menonton video yang merangsang.
Yang tak kalah penting, menurut dr. Yuni, adalah menjaga konsistensi waktu tidur dan bangun anak setiap hari, termasuk di akhir pekan.
“Anak perlu sesuatu yang bisa diprediksi. Konsistensi jadwal tidur dan bangun itu penting, karena sering kali orang tua lupa menerapkannya,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa tidur merupakan faktor penting dalam tumbuh kembang anak, selain nutrisi, stimulasi, dan imunisasi.
“Tidur yang terganggu bisa berpengaruh pada memori, sistem imun, bahkan kemampuan belajar anak. Termasuk juga pertumbuhannya,” pungkas dr. Yuni.



