Warga Palestina Kecewa dengan Pidato Trump yang Dinilai Tak Berperikemanusiaan

0 Shares

JAKARTA – Pernyataan terbaru Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengenai konflik di Jalur Gaza menuai kritik tajam dari warga Palestina dan para analis regional, yang mengatakan bahwa pernyataan itu mencerminkan sikap provokatif dan kurangnya komitmen tulus terhadap perdamaian.

Dalam sebuah diskusi meja bundar dengan sejumlah pejabat Qatar di Doha pekan ini, Trump menyarankan agar AS sebaiknya mengambil Gaza dan membentuk kembali masa depannya.

- Advertisement -

“Saya pikir saya akan bangga jika AS memilikinya, mengambilnya, menjadikannya sebagai zona kebebasan,” katanya, dikutip Holopis.com, Minggu (18/5).

“Biarkan hal-hal baik terjadi, tempatkan orang-orang di rumah yang aman, dan Hamas akan ditangani,” lanjutnya.

- Advertisement -

Komentar tersebut langsung menuai kecaman di seluruh Gaza, di mana penduduk menganggapnya tidak sensitif dan mencerminkan kebijakan luar negeri yang lebih didorong oleh kalkulasi politik ketimbang isu kemanusiaan.

Khalil Qassem, seorang pengungsi dari Beit Lahia yang kini berlindung di Gaza City, mengungkapkan skeptisisme mendalam.

“Ucapan Trump berubah-ubah. Dia tampaknya lebih peduli soal perolehan poin politik daripada menangani bencana kemanusiaan yang terjadi di sini,” kata Qassem.

Qassem mengatakan bahwa sekarang saja sudah ada tambahan ratusan orang meninggal dunia di Gaza, namun tidak ada juga tindakan yang berarti dari Amerika Serikat.

“Lebih dari 100 orang tewas di Gaza utara hari ini (Jumat) saja, dan belum ada tindakan berarti dari Washington untuk menghentikannya,” katanya.

Kemudian masyarakat Gaza lainnya, Emad Abu Omar, berpendapat bahwa sikap Trump mencerminkan pola yang mengakar dalam kebijakan luar negeri AS. Ia dengan gamblang mengatakan bahwa Amerika selalu memposisikan diri berpihak pada Israel.

“Posisinya selalu berpihak pada Israel,” kata Abu Omar.

“Sekali lagi, kita mendengar Gaza dibingkai sebagai hadiah politik, bukan sebagai tempat di mana warga sipil meregang nyawa setiap hari,” lanjutnya.

Sebagai informasi Sobat Holopis, Kunjungan Trump ke Timur Tengah pekan ini, dengan persinggahan di Riyadh, Doha, dan Abu Dhabi, sempat membangkitkan ekspektasi akan keterlibatan kembali AS dalam konflik mematikan di Gaza, yang telah berlangsung lebih dari 19 bulan dan menewaskan lebih dari 53.000 warga Palestina. Namun, bagi banyak pengamat, harapan itu telah pupus.

Bagi banyak warga Gaza, pernyataan Trump bukanlah janji, melainkan provokasi, dan juga pengingat bahwa penderitaan mereka tetap menjadi hal sekunder dalam kalkulasi geopolitik.

- Advertisement -
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
0 Shares
💬 Memuat kolom komentar Facebook...
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut

Berita Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru