Perdagangan Global Kembali Bergairah Usai AS-China Sepakat Pangkas Tarif Impor

0 Shares

JAKARTA – Keputusan Amerika Serikat dan China untuk menurunkan tarif impor satu sama lain langsung menggairahkan kembali perdagangan global yang sempat stagnan akibat ketegangan dua kekuatan ekonomi terbesar dunia.

Dalam waktu singkat, pelaku pasar di berbagai belahan dunia menyambut langkah ini dengan optimisme tinggi. Hal itu tercermin dari adanya peningkatan pada kontrak berjangka S&P 500 yang melonjak hingga 2,8 persen.

- Advertisement -

Kemudian kurs dolar AS menguat 0,7 persen, menguatnya kembali berbagai komoditas ekspor yang sempat tertekan, serta penurunan harga emas sebesar 2,3 persen.

Selama ini, ketegangan dagang antara Washington dan Beijing menjadi salah satu faktor utama yang menekan rantai pasok global, memicu ketidakpastian investasi, dan memperlambat arus perdagangan lintas negara.

- Advertisement -

Namun kini, pelaku industri dan eksportir internasional bisa kembali bernapas lega usai pemangkasan tarif tersebut, meskipun hanya berlangsung selama 90 hari ke depan.

“Kami menginginkan perdagangan yang lebih seimbang, dan saya kira kedua pihak berkomitmen untuk mewujudkannya,” kata Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, dalam konferensi pers di Jenewa, Swiss, seperti dikutip Holopis.com, Senin (12/5).

AS memangkas tarif barang-barang dari China dari 145 persen menjadi 30 persen. Sedangkan China menurunkan tarif produk asal AS dari 125 persen menjadi 10 persen.

Meski bersifat sementara, langkah ini dipandang sebagai sinyal kuat bahwa kedua negara membuka kembali jalur komunikasi yang sebelumnya membeku.

Kementerian Perdagangan China bahkan menyatakan, “Kami percaya konsultasi lanjutan akan membantu menyelesaikan isu-isu yang menjadi perhatian kedua negara di bidang ekonomi dan perdagangan,” demikian isi pernyataan bersama dengan AS.

Sebagai informasi, bahwa pertemuan bilateral di Jenewa mempertemukan delegasi tingkat tinggi kedua negara. Dari AS hadir Scott Bessent dan Perwakilan Dagang Jamieson Greer. Sedangkan dari China, negosiasi langsung dipimpin oleh Wakil Perdana Menteri He Lifeng.

Meski belum ada jaminan kesepakatan jangka panjang, para analis menyebut 90 hari ke depan sebagai momen krusial untuk menilai komitmen nyata kedua negara dalam memperbaiki sistem perdagangan multilateral yang lebih stabil dan adil.

- Advertisement -
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
0 Shares
💬 Memuat kolom komentar Facebook...
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut

Berita Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru