MotoGP 2025 Dianggap Membosankan, Mulai Kehilangan Daya Tarik
JAKARTA - MotoGP musim 2025 tampaknya semakin kehilangan daya tarik bagi sebagian penggemar, bahkan bagi mantan pembalap legendaris sekalipun. Ducati yang terus mendominasi lintasan disebut membuat persaingan di kelas utama ini terasa monoton.
Hingga lima seri berjalan, rider-rider Ducati masih tak terbendung. Marc Marquez menjadi sorotan dengan menyapu bersih semua sprint race di MotoGP Thailand, Argentina, Amerika Serikat, Qatar, dan Spanyol. Tak hanya itu, Baby Alien juga meraih kemenangan di main race tiga seri: Thailand, Argentina, dan Qatar.
Namun, di klasemen sementara, sang pemimpin adalah adiknya sendiri, Alex Marquez dari Gresini Racing. Dengan tunggangan Desmosedici GP24, Alex telah mengumpulkan 140 poin dan baru saja memenangi seri MotoGP Spanyol. Sementara itu, Francesco Bagnaia mencatatkan kemenangan di main race MotoGP Amerika Serikat.
Meski dominasi Ducati menunjukkan kekuatan teknis luar biasa, tidak semua pihak terkesan. Salah satunya adalah Kevin Schwantz, juara dunia kelas 500cc tahun 1993. Dalam wawancara dengan Speedweek yang dikutip Holopis.com, Jumat (9/5) Schwantz mengaku lebih tertarik menyaksikan ajang Superbike yang dinilainya lebih seru dan penuh kejutan.
“Saya pikir MotoGP sudah sedikit membosankan, jadi saya datang ke sini (Superbike) untuk melihat balapan,” kata Schwantz.
Pendapat Schwantz tak lepas dari fakta bahwa di Superbike 2025, persaingan jauh lebih terbuka. Dalam empat seri yang telah digelar, sudah empat rider berbeda naik podium pertama: Nicolo Bulega, Alvaro Bautista, Toprak Razgatlioglu, dan Dominic Aegerter.
Ia juga menilai para pembalap Superbike memiliki kualitas untuk bersaing di MotoGP jika diberi kesempatan. "Sistem elektronik di Superbike memang berbeda dengan di MotoGP, tapi saya yakin mereka bisa langsung adaptasi. Toprak, Nicolo, siapa saja," ujarnya.
Komentar Schwantz menambah perdebatan soal arah kompetisi MotoGP ke depan. Apakah dominasi teknis akan terus berlangsung? Atau justru menjadi titik awal transformasi demi menghadirkan tontonan yang lebih berimbang?