JAKARTA – Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait menggaungkan semangat gotong royong lintas kelas sosial dengan menggandeng para konglomerat untuk langsung turun tangan membangun rumah layak huni bagi rakyat kecil.
Dalam kunjungannya ke Bandung, Ara menekankan pentingnya kontribusi nyata dari kalangan pengusaha besar dalam mewujudkan amanat keadilan sosial sebagaimana termaktub dalam UUD 1945.
“Yang super kaya membantu yang sangat kekurangan. Inilah yang kita mau capai. Seperti kata Presiden Prabowo, bagaimana keadilan sosial dijalankan,” ujar Ara dalam keterangannya di Bandung, Sabtu (3/5) yang dikutip Holopis.com.
Salah satu contoh nyata yang ia tunjukkan adalah program renovasi 500 Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) di Kota Bandung. Uniknya, program ini tidak menggunakan dana APBN, APBD, maupun BUMN. Seluruh biaya renovasi ditanggung Agung Sedayu Group melalui Yayasan Budha Suci.
“Ini contoh ketika para pengusaha besar, konglomerat Indonesia, tidak hanya bicara tapi langsung turun tangan, bersentuhan dengan rakyat. Kalau begini caranya, Indonesia akan aman dan tenteram,” katanya.
Menurut Ara, kolaborasi semacam ini bisa terwujud berkat kepemimpinan daerah yang terbuka dan responsif terhadap inovasi kolaboratif. Ia bahkan menantang memori para kepala daerah soal proyek serupa.
“Saya tadi tanya ke Wali Kota Bandung dan Gubernur Jabar, kapan terakhir ada renovasi 500 rumah di Kota Bandung tanpa uang negara. Kayaknya memang belum pernah,” ujarnya.
Lebih jauh, Ara juga mengungkapkan bahwa arah kebijakan sektor perumahan di era kepemimpinan Presiden terpilih Prabowo Subianto akan semakin berpihak kepada rakyat kecil.
“Pak Prabowo memerintahkan kami, dan saya senang karena perintahnya adalah pro rakyat di bidang perumahan. PPN sudah gratis, PBG gratis dan cepat, BPHTB juga gratis,” ucapnya.
Kombinasi antara kebijakan afirmatif pemerintah dan kepedulian dunia usaha diyakini Ara sebagai langkah strategis untuk mempercepat pengentasan kesenjangan sosial di sektor perumahan.

