JAKARTA — Pemerintah Indonesia bergerak cepat merespons kebijakan tarif resiprokal yang diberlakukan Amerika Serikat (AS) terhadap sejumlah negara mitranya.
Tak sekadar bersikap reaktif, Indonesia langsung mengajukan proposal konkret dan menjadi negara pertama yang diajak berdialog oleh Negeri Paman Sam.
“Indonesia merespons cepat. Kita berkirim surat kepada Pemerintah Amerika, baik itu ke USTR, ke US Commerce, bahkan terakhir kepada US Treasury,” ujar Menko Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto dalam keteranganya beberapa waktu lalu, dikutip Holopis.com, Sabtu (3/5).
“Dan reach out Indonesia ternyata direspon positif oleh Amerika. Sehingga Indonesia menjadi salah satu negara pertama yang diundang untuk dijadwalkan perbincangan dengan Amerika,” imbuhnya menegaskan.
Langkah ini diambil pemerintah untuk menjaga stabilitas ekspor nasional sekaligus memperkuat hubungan dagang bilateral.
Indonesia juga membentuk satuan tugas khusus dan aktif menjalin komunikasi dengan negara mitra strategis lainnya seperti Malaysia, Singapura, Uni Eropa, dan China.
Proposal yang diajukan bersifat menyeluruh dan mengedepankan prinsip keadilan. Pemerintah mengusulkan revitalisasi perjanjian dagang seperti Trade and Investment Framework Agreement (TIFA) antara Indonesia dan AS, serta TIFA antara ASEAN dan AS.
Tak hanya menyampaikan pandangan, Indonesia juga menawarkan format perjanjian dua arah untuk memperkuat dan menyeimbangkan relasi ekonomi bilateral.
Selain berfokus pada hubungan dengan AS, Indonesia juga mempercepat upaya diversifikasi pasar ekspor. Uni Eropa menjadi target strategis berikutnya melalui percepatan penyelesaian Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Uni Eropa (IEU-CEPA).
Upaya ini sejalan dengan langkah reformasi domestik menuju aksesi ke Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) dan Kemitraan Trans-Pasifik Komprehensif dan Progresif (CPTPP).


