JAKARTA – Persiapan mengikuti lomba lari tak hanya soal fisik dan latihan rutin, tapi juga dimulai dari dapur. Dokter Spesialis Gizi Klinik lulusan Universitas Indonesia, dr. Angela Dalimarta, Sp.GK, menekankan pentingnya membentuk pola makan sehat sebelum memasuki program latihan lari.
“Kita mau ubah habit seseorang yang awalnya makannya tuh kurang bagus, gak teratur, kemudian pilihan makanan yang gak tepat, digantiin yang tepat dulu. Nah, harapannya ketika habit baiknya terbentuk, nanti dia akan mudah menjalani latihan juga,” ujar dr. Angela dalam konferensi pers Isoplus Run Series 2025 di Jakarta, Selasa (15/4) seperti dikutip Holopis.com.
Menurut Angela, pola makan seimbang yang mencakup karbohidrat, protein, dan lemak dalam porsi tepat, sangat penting untuk menunjang performa latihan dan membantu tubuh dalam proses adaptasi serta pembentukan otot.
Tak hanya soal apa yang dimakan, dr. Angela juga menyoroti pentingnya waktu makan yang teratur dan kualitas istirahat yang cukup.
“Gak bisa cuma karbo doang, protein doang, atau lemak doang. Harus lengkap, seimbang, dan mengikuti panduan seperti Isi Piringku dari Kemenkes. Tidur juga gak kalah penting, karena itu bagian dari recovery tubuh kita,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan risiko dari konsumsi makanan olahan ultra (ultra-processed food), yang bisa memicu peradangan dalam tubuh, menurunkan performa latihan, dan memperlambat pemulihan usai aktivitas berat.
Selain itu, kebutuhan tubuh akan cairan dan elektrolit saat berlari juga tak bisa diabaikan. Keringat yang keluar selama latihan harus segera diganti dengan asupan cairan dan ion yang cukup. Jika tidak, tubuh bisa mengalami hiponatremia, pembengkakan otot, gangguan irama jantung, hingga risiko pingsan.
“Jangan remehkan kehilangan ion saat berkeringat banyak. Itu bisa jadi fatal kalau gak ditangani dengan benar,” tutup dr. Angela.

