JAKARTA – Hari Anak Jalanan Internasional diperingati setiap tanggal 12 April di berbagai belahan dunia. Hari ini dicanangkan sebagai bentuk kepedulian terhadap anak-anak yang hidup di jalanan, yang sering kali tidak mendapatkan hak-haknya sebagai manusia. Tujuannya adalah memberikan suara bagi mereka yang tak terdengar, serta mendorong pemerintah, organisasi, dan masyarakat untuk bersama-sama mencari solusi.
Melalui peringatan ini, berbagai organisasi kemanusiaan menyuarakan kebutuhan mendesak anak-anak jalanan akan rumah yang aman, pendidikan yang layak, layanan kesehatan, serta pelatihan keterampilan hidup agar mereka dapat keluar dari siklus kemiskinan.
Tonggak Penting : Konvensi Hak Anak Tahun 1989
Kesadaran global tentang pentingnya hak anak semakin menguat sejak Konvensi Hak Anak yang diadakan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun 1989. Dalam konvensi ini, ditegaskan bahwa setiap anak memiliki hak untuk hidup dalam lingkungan yang aman, penuh kasih, dan mendukung. Mereka juga berhak atas layanan kesehatan, nutrisi, air bersih, listrik, pendidikan, serta kebebasan dan martabat yang setara.
Sayangnya, anak-anak yang hidup di jalanan sering kali tidak mendapat akses terhadap hak-hak ini. Mereka tetap berada dalam kondisi yang membahayakan fisik maupun mentalnya, tanpa perlindungan yang memadai.
Upaya Global: Four Steps to Equality
Sebagai bentuk respons konkret terhadap masalah ini, organisasi Consortium for Street Children (C.S.C.) mengembangkan program Four Steps to Equality. Inisiatif ini terdiri dari empat langkah utama: berkomitmen terhadap kesetaraan, melindungi setiap anak, menyediakan akses terhadap layanan dasar, dan menciptakan solusi baru yang berkelanjutan.
Empat langkah ini menjadi panduan global dalam merancang kebijakan perlindungan anak jalanan, sekaligus membuka jalan bagi perubahan nyata di lapangan.
Fakta Mengerikan : Jutaan Anak Hidup di Jalanan
Statistik global memperkirakan bahwa hingga 150 juta anak hidup di jalanan. Kondisi mereka sangat beragam. Ada anak-anak yang hidup bersama keluarganya di jalanan, ada pula yang menghabiskan hari dengan mengemis atau bekerja di jalanan namun pulang ke rumah saat malam tiba. Tak sedikit juga yang benar-benar yatim piatu dan hidup sepenuhnya tanpa rumah ataupun keluarga.
Kondisi ini menjauhkan mereka dari hak-hak dasar seperti pendidikan, perlindungan, makanan bergizi, dan akses kesehatan. Mereka rentan terhadap kekerasan, eksploitasi, dan diskriminasi.
Akar Masalah : Mengapa Anak-anak Bisa Hidup di Jalanan?
Banyak faktor yang menyebabkan anak-anak berakhir di jalanan. Salah satu yang paling umum adalah dampak dari konflik dan peperangan yang memisahkan mereka dari keluarga atau menyebabkan kematian orang tua. Ada juga anak-anak yang melarikan diri dari rumah karena mengalami kekerasan fisik atau emosional.
Selain itu, beberapa anak ditolak oleh keluarganya karena masalah kesehatan, cacat fisik, atau beban ekonomi. Tak jarang juga anak-anak dipaksa masuk dalam dunia kriminal oleh orang dewasa yang tak bertanggung jawab. Apa pun alasannya, anak-anak ini tumbuh dalam kondisi yang jauh dari ideal dan membutuhkan bantuan segera.
Hari Anak Jalanan Internasional adalah momen penting untuk mengingat bahwa jutaan anak hidup tanpa jaminan keselamatan, kasih sayang, atau masa depan yang layak. Dunia tidak boleh menutup mata terhadap kenyataan ini. Peringatan ini harus menjadi pengingat bahwa setiap anak, tanpa terkecuali, berhak atas kehidupan yang aman dan bermartabat.
Dengan kerja sama yang kuat antara pemerintah, organisasi sosial, dan masyarakat umum, kita bisa menciptakan dunia yang lebih ramah bagi mereka—dunia di mana tak ada lagi anak yang harus hidup dan tumbuh besar di jalanan.


