JAKARTA – Ferenc Raymon Sahetapy, yang lebih dikenal sebagai Ray Sahetapy, lahir pada 1 Januari 1957 dan menghembuskan napas terakhirnya pada 1 April 2025 di usia 68 tahun. Ray adalah seorang aktor Indonesia yang legendaris dan dikenal karena perannya dalam berbagai film drama yang menampilkan karakter-karakter kompleks dengan nuansa yang mendalam.
Setlah menjalani karir di dunia perfilman selama empat dekade, Ray Sahetapy menjadi salah satu sosok yang paling berpengaruh dalam dunia perfilman Indonesia.
Berikut ini biodata dan profil lengkap Ray Sahetapy.
- Nama : Ferenc Raymon Sahetapy
- Nama beken : Ray Sahetapy
- Tanggal Lahir : 1 Januari 1957
- Tempat Lahir : Donggala, Sulawesi Tengah
- Pekerjaan : Aktor Kawakan
- Meninggal : 1 April 2025
Kehidupan Pribadi
Ray Sahetapy menghabiskan masa kecilnya di Panti Asuhan Yatim Warga Indonesia, Surabaya. Sejak remaja, ia sudah bercita-cita menjadi aktor, sehingga melanjutkan pendidikannya di Institut Kesenian Jakarta pada tahun 1977. Ia satu angkatan dengan Deddy Mizwar dan Didik Nini Thowok.
Ray menikah dengan Dewi Yull pada 16 Juni 1981 meskipun menghadapi tantangan karena perbedaan agama. Pada tahun 1992, Ray memutuskan untuk menjadi mualaf. Pernikahannya dengan Dewi dikaruniai empat anak: Giscka Putri Agustina Sahetapy (1982—2010), Rama Putra Sahetapy (1992), Surya Sahetapy (1994), dan Muhammad Raya Sahetapy (2000).
Namun, pernikahan mereka berakhir dengan perceraian pada tahun 2004 karena perbedaan prinsip mengenai poligami. Di tahun yang sama, Ray menikahi Sri Respatini Kusumastuti.
Perjalanan Karier
Ray Sahetapy memulai debutnya di dunia film dengan ‘Gadis’ (1980), sebuah film yang mempertemukannya dengan Dewi Yull, yang kelak menjadi istrinya. Namanya semakin dikenal setelah membintangi berbagai film drama yang mendapat apresiasi tinggi, seperti ‘Ponirah Terpidana’ (1983), ‘Tatkala Mimpi Berakhir’ (1987), dan ‘Jangan Bilang Siapa-Siapa’ (1990).
Berkat kepiawaiannya dalam berakting, Ray telah dinominasikan sebanyak tujuh kali dalam ajang Festival Film Indonesia, enam di antaranya untuk kategori Aktor Terbaik. Meskipun belum pernah memenangkan Piala Citra, ia tetap dikenang sebagai salah satu aktor terbaik dalam generasinya.
Di tengah mati surinya industri film Indonesia, Ray tidak menyerah dan tetap aktif di dunia seni peran. Ia mendirikan sanggar teater di pinggiran kota dan membentuk komunitas teater yang berkontribusi terhadap perkembangan dunia seni. Selain itu, pada tahun 2006, ia kembali aktif berakting di layar lebar dengan membintangi ‘Dunia Mereka’ dan bahkan dipilih sebagai salah satu ketua dalam kongres PARFI.


