Mengapa Silaturahmi saat Lebaran Tetap Relevan? Begini Jawabannya


Oleh : Khoirudin Ainun Najib

JAKARTA - Hari Raya, adalah sebuah momen sakral yang dirayakan oleh berbagai agama dan budaya di seluruh dunia, identik dengan tradisi silaturahmi. Kunjungan antar keluarga, kerabat, dan sahabat menjadi ritual wajib yang seolah tak lekang dimakan waktu.

Namun, di era digital yang serba cepat dan individualistis ini, muncul pertanyaan: mengapa silaturahmi di Hari Raya tetap penting dan relevan di masa depan?

Memperkuat Jalinan Sosial di Era Digital

Di tengah kemudahan komunikasi virtual, esensi silaturahmi tatap muka justru semakin terasa krusial. Bertemu langsung, berjabat tangan, dan bertukar cerita secara langsung menciptakan koneksi emosional yang lebih mendalam dibandingkan sekadar bertukar pesan singkat.

Penelitian dari Brigham Young University yang dipublikasikan dalam jurnal PLoS Medicine menemukan bahwa isolasi sosial memiliki dampak negatif yang sebanding dengan merokok 15 batang sehari, dan silaturahmi dapat menjadi penangkalnya (Holt-Lunstad et al., 2010).

Hari Raya menjadi momentum penting untuk memperkuat jalinan sosial yang mungkin merenggang akibat kesibukan sehari-hari.

Menjaga Tradisi dan Nilai Budaya

Silaturahmi bukan hanya sekadar kunjungan fisik, tetapi juga membawa nilai-nilai luhur seperti kebersamaan, saling memaafkan, dan menghormati yang lebih tua. Melalui interaksi langsung, nilai-nilai ini diturunkan dari generasi ke generasi, menjaga keberlangsungan tradisi dan memperkaya identitas budaya.

Dalam konteks Indonesia, silaturahmi saat Idul Fitri menjadi contoh nyata bagaimana nilai gotong royong dan kekeluargaan diwujudkan secara nyata.

Menciptakan Dukungan Sosial dan Kesejahteraan Mental
Pertemuan saat Hari Raya seringkali menjadi wadah untuk berbagi suka dan duka. Dukungan emosional yang diberikan dan diterima selama silaturahmi memiliki dampak positif terhadap kesejahteraan mental.

Menurut studi dari University of Michigan, interaksi sosial yang positif dapat mengurangi risiko depresi dan meningkatkan rasa bahagia (Umberson & Montez, 2010).

Di masa depan, di mana isu kesehatan mental semakin menjadi perhatian, peran silaturahmi dalam menciptakan lingkungan sosial yang suportif akan semakin signifikan.

Adaptasi Silaturahmi di Masa Depan

Tentu saja, bentuk silaturahmi dapat bertransformasi seiring perkembangan teknologi. Kombinasi antara kunjungan fisik dan virtual mungkin menjadi tren di masa depan. Namun, esensi dari silaturahmi, yaitu mempererat hubungan dan berbagi kebahagiaan, akan tetap menjadi inti dari perayaan Hari Raya.

Meskipun dunia terus berubah, nilai silaturahmi di Hari Raya tetap relevan dan bahkan semakin penting di masa depan. Lebih dari sekadar tradisi, silaturahmi adalah investasi sosial yang memperkuat jalinan persaudaraan, menjaga nilai budaya, dan meningkatkan kesejahteraan mental.

Oleh karena itu, mari terus lestarikan tradisi indah ini dan jadikan Hari Raya sebagai momentum untuk mempererat tali silaturahmi dengan orang-orang terkasih.

Tampilan Utama