JAKARTA – Hamdan Ballal Al-Huraini adalah seorang sutradara, fotografer, aktivis hak asasi manusia, dan petani asal Palestina yang berasal dari desa Susya di Tepi Barat. Ia dikenal secara internasional sebagai salah satu sutradara film dokumenter ‘No Other Land’, yang berhasil meraih Academy Award pada tahun 2024.
Melalui karyanya, Ballal mendokumentasikan kekerasan pemukim Israel serta upaya penggusuran warga Palestina di wilayah Masafer Yatta.
Berikut ini biodata dan profil lengkap Hamdan Ballal.
- Nama : Hamdan Ballal
- Tahun Lahir : 1989
- Tempat Lahir : Susiya, West Bank
- Warga Negara : Palestina
- Pekerjaan : Sutradara dan Pembuat Film
Kehidupan Awal dan Keluarga
Hamdan Ballal lahir pada tahun 1989 di Susya, sebuah desa yang terletak di perbukitan Hebron Selatan, Tepi Barat. Ia tumbuh dalam lingkungan yang terus berjuang menghadapi ancaman penggusuran dan kekerasan dari pemukim Israel. Selain berkarya di dunia perfilman, ia juga bekerja sebagai petani serta memiliki keluarga kecil dengan seorang istri dan satu anak.
Perjalanan Karier dan Aktivisme
Sebelum terjun ke dunia perfilman, Ballal aktif sebagai fotografer dan peneliti lapangan untuk organisasi hak asasi manusia B’Tselem. Ia terlibat dalam pendokumentasian berbagai pelanggaran HAM yang terjadi di Tepi Barat, khususnya di Masafer Yatta, yang kerap menjadi sasaran penggusuran oleh otoritas Israel. Selain itu, ia turut mendirikan proyek ‘Humans of Masafer Yatta’, sebuah inisiatif yang menampilkan kisah-kisah kehidupan warga Palestina di wilayah tersebut.
Sebagai sutradara, Ballal berkolaborasi dengan Basel Adra, Yuval Abraham, dan Rachel Szor dalam pembuatan film dokumenter ‘No Other Land’. Film ini dibuat selama lima tahun dan menggambarkan perjuangan warga Palestina menghadapi kekerasan pemukim serta upaya militer Israel untuk menggusur mereka dari tanah kelahiran mereka.
Dokumenter ini mendapatkan berbagai penghargaan bergengsi, termasuk Panorama Audience Award dan Berlinale Documentary Award di Berlin International Film Festival 2024, sebelum akhirnya memenangkan Oscar sebagai Film Dokumenter Terbaik pada Academy Awards ke-97.
Penyerangan dan Penahanan Setelah Oscar
Pada 24 Maret 2025, hanya beberapa minggu setelah kemenangan Oscar, Ballal menjadi korban serangan brutal oleh pemukim Israel di desanya, Susya. Sekitar 10 hingga 20 pemukim bersenjata menyerang rumahnya, merusak properti, dan melakukan kekerasan terhadapnya serta para aktivis lain. Ballal mengalami luka di kepala dan perut akibat pemukulan sebelum akhirnya ditahan oleh pasukan Israel yang datang ke lokasi.
Militer Israel mengklaim bahwa Ballal dan dua warga Palestina lainnya ditangkap karena diduga melempar batu ke pasukan keamanan, sebuah tuduhan yang dibantah oleh saksi mata. Hingga saat ini, keberadaannya masih belum sepenuhnya dikonfirmasi oleh pihak berwenang, dan insiden ini telah memicu kecaman internasional terhadap tindakan represif Israel terhadap aktivis Palestina.

