Meneguhkan Islam Kemanusiaan: Melawan Radikalisme dengan Kasih Sayang

Mohammad Dofir
Mohammad Dofir
Anggota Polisi berpangkat Komisaris Besar (Kombes) yang kini bertugas sebagai Kepala Direktorat Pencegahan Densus 88 Anti Teror Mabes Polri.
Seluruh tulisan ini menjadi tanggung jawab penulis. Sebagian atau keseluruhan isi tidak mewakili sikap redaksi.
0 Shares

Dewasa ini radikalisme telah menjadi tantangan besar bagi kehidupan beragama dan bermasyarakat di dunia, termasuk di Indonesia. Agama Islam mengajarkan rahmat bagi seluruh alam, Islam memiliki potensi besar untuk melawan paham radikal dengan pendekatan kasih sayang dan kemanusiaan. Inilah esensi Islam yang sering kali terlupakan di tengah gempuran narasi ekstremisme.

Islam kemanusiaan menegaskan bahwa setiap manusia memiliki nilai yang sama di hadapan Allah, terlepas dari latar belakang suku, agama, ras, atau golongan. Prinsip ini tercermin dalam Al-Qur’an, seperti dalam surah Al-Hujurat ayat 13 yang menyatakan bahwa Allah menciptakan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar mereka saling mengenal, bukan saling bermusuhan. Dalam konteks ini, kasih sayang menjadi inti dari interaksi sosial yang harmonis.

- Advertisement -Hosting Terbaik

Pendekatan kasih sayang juga telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Dalam berbagai riwayat, Nabi selalu mengedepankan dialog, toleransi, dan empati dalam menghadapi mereka yang berbeda pandangan atau bahkan memusuhi beliau. Salah satu kisah yang terkenal adalah bagaimana Nabi dengan penuh kesabaran memaafkan seorang wanita yang kerap melemparkan kotoran ke arahnya dan masih banyak lagi kisah keagungan akhlak Nabi. Tindakan tersebut mencerminkan akhlak mulia yang seharusnya menjadi teladan bagi umat Islam.

Namun, tantangan muncul ketika sebagian kelompok menggunakan dalih agama untuk membenarkan tindakan kekerasan. Mereka menafsirkan teks-teks agama secara literal tanpa mempertimbangkan konteks dan tujuan utama syariat, yaitu membawa kedamaian dan keadilan. Akibatnya, Islam sering kali dipersepsikan sebagai agama yang keras dan intoleran, meskipun hakikatnya bertolak belakang.

- Advertisement -

Untuk melawan radikalisme, penting bagi umat Islam untuk kembali meneguhkan ajaran kasih sayang yang menjadi inti Islam kemanusiaan. Hal ini dapat dilakukan melalui beberapa langkah konkret:

Pendidikan sebagai Pilar Moderasi Keagamaan

Pendidikan berperan penting dalam membentuk karakter dan pandangan hidup individu, termasuk dalam memahami agama secara inklusif. Kurikulum pendidikan yang berfokus pada nilai-nilai universal seperti toleransi, perdamaian, dan penghormatan terhadap keberagaman memiliki potensi besar untuk menciptakan masyarakat yang lebih harmonis. Maka dari hal ini menjadi tugas kita semua terutama para pendidik (Guru, Ustadz, Gus dan Kiyai) untuk menanamkan nilai-nilai tersebut sejak dini, para pendidik (Guru, Ustadz, Gus dan Kiyai) tidak hanya mengajak, mengajarkan akan tetapi juga harus memberikan contoh yang baik untuk mengapresiasi perbedaan dan mengelola konflik secara konstruktif. Pendekatan ini tidak hanya relevan untuk pendidikan formal, tetapi juga dalam pendidikan nonformal dan informal yang berperan dalam membangun kesadaran sosial dan keberagaman.

Salah satu cara efektif yang dapat dilakukan oleh pendidik dalam mengajarkan moderasi beragama misalnya dalam konteks agama Islam adalah dengan menerapkan model pembelajaran kontekstual. Model ini tidak hanya berfokus pada penyampaian materi oleh guru, tetapi juga melibatkan siswa untuk menganalisis materi yang diajarkan melalui contoh nyata dari lingkungan sekitar Siswa memperoleh pemahaman tentang moderasi beragama melalui pengalaman langsung, sehingga mereka dapat merasakan dan menginternalisasi apa yang dipelajari. Pembelajaran kontekstual dirancang untuk membantu guru mengaitkan materi pelajaran dengan situasi kehidupan nyata, mendorong siswa untuk menghubungkan pengetahuan yang mereka miliki dengan aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari. Model ini mencakup tujuh komponen utama pembelajaran efektif, yaitu: konstruktivitas, bertanya, menemukan, pembelajaran kolaboratif, pemodelan, refleksi, dan evaluasi.

Pendekatan moderasi dalam pendidikan keagamaan sangat diperlukan untuk merespons dinamika sosial yang kompleks. Penekanan pada toleransi dan penghormatan terhadap keberagaman telah terbukti efektif dalam mencegah ekstremisme. Menurut laporan UNESCO (2021), pendidikan yang inklusif dapat mempromosikan perdamaian global dengan mengurangi prasangka dan meningkatkan saling pengertian di antara komunitas yang berbeda. Dengan demikian, integrasi nilai-nilai universal dalam kurikulum pendidikan keagamaan tidak hanya mencerminkan kebutuhan lokal tetapi juga mendukung agenda global untuk menciptakan masyarakat yang lebih adil dan damai.

Penguatan Peran Ulama dan Tokoh Agama

Ulama memiliki peran strategis dalam menyampaikan pesan-pesan keagamaan yang mencerahkan dan membangun harmoni sosial. Sebagai penjaga nilai-nilai luhur, ulama diharapkan menjadi sumber rujukan dalam memberikan pmahaman agama yang sejuk, inklusif, dan relevan dengan konteks masyarakat. Dalam konteks ini, kehadiran ulama tidak hanya sebagai pemimpin spiritual tetapi juga sebagai agen perubahan sosial yang mampu menjembatani kebutuhan masyarakat dengan nilai-nilai keagamaan. Hal ini sejalan dengan pandangan Nurcholish Madjid yang menekankan pentingnya ulama sebagai pelopor transformasi sosial.

- Advertisement -
0 Shares
💬 Memuat kolom komentar Facebook...

Berita Terbaru

Opini Lainnya