JAKARTA – Kondisi banjir melanda sejumlah kabupaten yang ada di Provinsi Jawa Tengah setelah kondisi hujan deras melanda sejak Senin (24/2).
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari mengungkapkan, kondisi tersebut menyebabkan anak Sungai Bengawan Solo dan Sungai Jlantah meluap.
Seperti kondisi banjir yang melanda wilayah Kabupaten Sukoharjo. Genangan air dengan ketinggian rata-rata 20 hingga 100 cm merendam akses jalan dan permukiman di tujuh kecamatan, termasuk Nguter, Sukoharjo, Tawangsari, Polokarto, Grogol, Baki, dan Mojolaban.
Banjir ini berdampak pada 370 kepala keluarga (KK), dengan 300 KK atau sekitar 200 jiwa terpaksa mengungsi.
“Selain itu, sekitar 370 rumah warga dan dua fasilitas pendidikan terdampak banjir. Saat ini, BPBD Provinsi Jawa Tengah bersama BPBD Kabupaten Sukoharjo telah melakukan upaya evakuasi warga serta menyalurkan bantuan logistik dan matras ke lokasi pengungsian,” kata Abdul Muhari dalam keterangannya yang dikutip Holopis.com, Selasa (24/2).
Abdul menyebut bahwa kondisi air belum surut dan proses evakuasi masih terus dilakukan.
Wilayah lainnya yang terdampak luapan Bengawan Solo yakni di Kabupaten Surakarta. Beberapa permukiman warga di Kecamatan Pasar Kliwon, dan Kecamatan Jebres, terdampak banjir dengan ketinggian air mencapai 40 hingga 120 cm.
Banjir mulai menggenangi rumah warga pada Selasa (25/2) dini hari, sekitar pukul 01.45 WIB.
“Berdasarkan laporan sementara, sekitar 163 kepala keluarga atau 315 jiwa terdampak di tiga kelurahan, yaitu Kelurahan Sangkrah dan Kelurahan Sewu di Kecamatan Pasar Kliwon, serta Kelurahan Jebres di Kecamatan Jebres,” jelasnya.
“Sementara itu, sebanyak 113 unit rumah terdampak,” lanjutnya.
BPBD Kota Surakarta bersama BPBD Provinsi Jawa Tengah segera melakukan langkah penanganan dengan mendirikan lokasi pengungsian di bantaran Sungai Bengawan Solo.
Kondisi terkini Abdul memastikan bahwa banjir berangsur surut, dan sebagian besar warga yang sempat mengungsi telah kembali ke rumah masing-masing. Namun, upaya pemulihan masih terus dilakukan, termasuk aktivasi rumah pompa untuk mempercepat penyusutan genangan air.
Banjir diketahui juga melanda pemukiman warga di Kabupaten Boyolali sejak Minggu (23/2) hingga menyebabkan tanah longsor di beberapa titik.
Kejadian pertama dilaporkan pada pukul 18.30 WIB, ketika longsoran tanah menutup jalur SSB di Desa Genting, Kecamatan Cepogo. Selanjutnya, laporan lain menyusul terkait longsor serta rumah terdampak cuaca ekstrem di Desa Senden, Kecamatan Selo, serta Desa Kembangkuning, Kecamatan Cepogo.
Berdasarkan pendataan, sebanyak 12 kepala keluarga (KK) terdampak, dengan rincian 6 KK di Desa Kembangkuning, Kecamatan Cepogo, dan 6 KK di Desa Senden, Kecamatan Selo.
Satu orang mengalami luka ringan atas nama Ika Listiyani (23), yang telah mendapatkan perawatan di RSPA. Selain itu, satu orang harus mengungsi ke rumah kerabat terdekat.
Dampak kerusakan akibat bencana ini mencakup 13 unit rumah yang terdampak, serta lima ruas jalan yang terhalang oleh longsoran tanah. Beberapa titik tebing longsor juga menutup bahu jalan, sehingga menghambat mobilitas masyarakat di sekitar lokasi kejadian.
Alat berat telah dikerahkan untuk membersihkan material longsoran di Desa Genting. Upaya pembersihan akses jalan di Gunung Sentir menuju Desa Senden juga tengah dilakukan.
“Kebutuhan mendesak saat ini meliputi alat berat tambahan untuk membuka akses jalan yang masih tertutup di Desa Senden serta bantuan logistik bagi warga terdampak,” tuturnya.
Di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, hujan deras disertai angin kencang melanda Desa Jambu Kulon, Kecamatan Ceper, pada Senin (24/2). Cuaca ekstrem ini mengakibatkan kerusakan pada puluhan rumah warga serta fasilitas umum. Selain itu, satu pabrik briket roboh, dan jaringan listrik di wilayah terdampak mengalami gangguan.
Dari data sementara, sebanyak 60 kepala keluarga (KK) atau 178 jiwa terdampak. Satu keluarga yang terdiri dari tujuh jiwa terpaksa mengungsi akibat kerusakan parah pada rumah mereka. Selain itu, terdapat satu warga mengalami luka ringan (LR) dan satu warga lainnya luka sedang (LS). Kerugian materil meliputi 60 unit rumah rusak, delapan fasilitas umum terdampak, serta pabrik briket yang roboh akibat kuatnya tiupan angin.

