HOLOPIS.COM, JAKARTA – Direktur eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO) Dedi Kurnia Syah Putra menilai bahwa reshuffle Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Mendikti Saintek) tidak banyak bisa diharapkan akan adanya perubahan dan peningkatan kualitas.
“Tidak banyak yang bisa diharapkan dengan kondisi kabinet saat ini,” kata Dedi dalam keterangannya, Rabu (19/2/2025).
Walaupun dalam kacamata Dedi, sosok Brian Yuliarto yang menggantikan Satryo Soemantri Brodjonegoro memiliki tingkat kualitas akademik cukup baik, apalagi notabane adalah Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi Institut Teknologi Bandung (ITB) periode 2025 – 2030 sekaligus dosen di Fakultas Teknologi Industri ITB, namun hal itu adalah kualitas personalnya saja.
“Meskipun, Mendiktisaintek yang baru saja dilantik, miliki catatan yang cukup baik terkait aktifitasnya sebagai akademisi, tetapi itu tentu personal, sementara yang diperlukan bagi menteri adalah gagasan berdampak untuk cakupan negara,” ujarnya.
Sebagai seorang Menteri, gagasan besar dalam organisasi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi tentu bukan bicara soal personal, akan tetapi organisasi besar, khususnya sebagai pemerintahan eksekutif.
“Dan sejauh ini belum ada catatan soal gagasan dan ide pendidikan tinggi dan juga riset yang bisa dibaca, terlebih Mendiktisaintek didampingi oleh Wamen yang sama-sama tidak menjanjikan soal kapasitas ide dan gagasan,” sambungnya.
Di sisi lain, pesimisme itu juga didasari atas kemampuan anggaran yang dimiliki oleh seluruh kementerian, khususnya kementerian yang kini dijabat oleh Brian Yuliarto. Apalagi sebagai sesama akademisi, Dedi menilai bahwa pemotongan anggaran oleh pemerintahan pusat bisa juga berdampak pada kualitas pelayanan dan operasional sebuah lembaga pendidikan.
“Dengan kondisi pemotongan anggaran di Kemendiktisaintek, ini akan membuat menteri baru hanya bekerja secara normatif, sulit mengembangkan rencana strategis, utamanya terkait riset,” tuturnya.
Bahkan kata Dedi, dengan postur anggaran di periode sebelumnya, Kementerian yang semula bernama Kemendikbud Ristek juga masih kesulitan melakukan manuver, apalagi jika anggarannya malah dipangkas.
“Dengan anggaran pada periode sebelumnya saja, Kementerian ini kesulitan berkembang, pengelolaan perguruan tinggi yang selalu alami perubahan, membuat iklim perguruan tinggi kian tidak menentu,” tukas Dedi.
Oleh sebab itu, ia memandang bahwa tugas Brian Yuliarto sebagai Mendikti Saintek di Kabinet Merah Putih sangat berat. Ini adalah tantangan besar apakah kualitas kepemimpinan Menteri lulusan Master Engineering dari Universitas Tokyo tersebut dapat diharapkan atau tidak.
“Menteri baru akan menghadapi tantangan cukup besar,” pungkasnya.
Sekadar diketahui Sobat Holopis, bahwa Presiden Prabowo Subianto resmi melantik Brian Yuliarto sebagai Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) di Istana Negara, Jakarta, pada Rabu (19/2).
Brian dilantik menggantikan Satryo Soemantri Brodjonegoro, yang diketahui sebelumnya sempat didemo oleh Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Kemendikti Saintek.


