HOLOPIS.COM, JAKARTA – Pengamat IT, Alfons Tanujaya mengatakan bahwa di era teknologi informasi saat ini, keberadaan Artificial Intelligence (AI) menjadi sesuatu yang tak bisa dinafikkan. Apalagi, dunia saat ini sudah merambah teknologi kecerdasan buatan tersebut di hampir semua platform dan perangkat.
“Penggunaan AI akan bisa melampaui penggunaan internet, sehingga Indonesia perlu fokus dalam pengembangan AI,” kata Alfons dalam keterangan persnya yang diterima Holopis.com, Sabtu (15/2/2025).
Ia mengatakan bahwa pemfokusan pengembangan teknologi informasi berbasis AI tersebut perlu dilakukan agar Indonesia tidak kalah saing dengan negara-negara maju. Apalagi negara-negara super power seperti Amerika dan China sudah memfokuskan mereka pada kemajuan kecerdasan buatan tersebut.
“Singapura, Negara tetangga Indonesia saja sudah menjadi negara peringkat ketiga di dunia setelah Amerika Serikat dan China dalam hal pemanfaatan AI, Indonesia tertinggal sangat jauh,” ujarnya.
Lantas ia juga memberikan reaksi terhadap sejumlah tudingan bahwa AI adalah mesin kejahatan. Sebab, banyak sekali praktik kejahatan termasuk modus cyber crime berbasis AI banyak digunakan.
“Ya memang ada beberapa kasus di mana AI digunakan untuk menipu masyarakat,” tandasnya.
Hanya saja ia memberikan penekanan bahwa praktik kejahatan dengan pemanfaatan AI tidak boleh dijadikan dalil untuk tidak mengembangkan AI apalagi mengabaikan teknologi tersebut begitu saja.
“Seharusnya tidak menjadi dasar untuk menghentikan pertumbuhan AI di Indonesia, ini belum tumbuh tapi sudah ada regulasi yang membatasi penggunaan AI,” tukasnya.
Oleh sebab itu, ketimbang mematikan inovasi berbasis AI, Alfons Tanujaya menekankan agar regulasi terhadap teknologi tersebut bisa disesuaikan dengan kondisi yang ada.
“Tumbuh dulu AI-nya, baru diatur di dalam regulasi,” sambung Alfons.
Lebih lanjut, Alfons Tanujaya juga memberikan penekanan bahwa Indonesia seharusnya bisa menjadi negara produsen kecerdasan buatan. Jangan sampai Indonesia justru sekadar menjadi pasar bagi dua negara, yakni Amerika maupun China.
“Saat ini Amerika dan China dalam suasana perang dagang, dan Amerika membatasi penjualan chip AI NVidia ke China dan tidak ke Indonesia. Indonesia perlu memanfaatkan situasi ini supaya bisa berperan dan menikmati perkembangan AI, dan setidaknya ada pasar AI bisa dialihkan ke Indonesia,” pungkasnya.

