NewsPolhukamSofyan Tsauri : Intoleransi Tangga Pertama Menjadi Teroris

Sofyan Tsauri : Intoleransi Tangga Pertama Menjadi Teroris

BERITA TERKAIT

JAKARTA, HOLOPIS.COMMantan anggota jaringan teroris, Sofyan Tsauri memberikan informasi bahwa salah satu langkah untuk menjadi teroris tidak mudah. Rata-rata orang bisa menjadi teroris dan pelaku terorisme selalu mengawali karirnya dengan pemahaman intoleransi.

“Seorang teroris tidak ujug-ujug melakukan aksi teroris kalau dia tidak menginjak 3 tangga, yakni intoleransi, radikalisme dan terorisme,” kata Sofyan Tsauri dalam RuangTamu Holopis Channel, Jumat (26/11).

Menurut Sofyan Tsauri, seorang teroris sudah pasti pelaku intoleran dan radikalis, akan tetapi pelaku intoleran dan radikal belum tentu merupakan seorang teroris.

“Seorang teroris sudah pasti radikal dan intoleran, tapi yang radikal dan intoleran belum tentu teroris,” jelasnya.

Oleh karena itu, jika ingin menanggulangi terorisme di Indonesia maka tahapan awal jangan sampai paham intoleran merebak kepada generasi bangsa Indonesia.

“Penting bagi kita ajaran-ajaran terkait intoleransi harus punya delik hukum, bagaimana orang bisa mengajak membenci orang lain. Ini harus disebarkan dan dipahamkan pada masyarakat, bahwa perbuatan-perbuatan intoleran merupakan bibit menjadi teroris,” ujarnya.

Ia kemudian menceritakan pengalamannya di awal-awal sampai terjerembab ke dalam jaringan teroris tersebut. Di mana ia saat itu masih berdinas sebagai anggota Brimob di Kelapa Dua Depok. Saat itu ia berpikir bahwa hormat bendera merah putih adalah sesuatu yang tidak boleh dilakukan karena menganggap hormat kepada barang mati yang berimplikasi pada pemahaman syirik.

Bahkan di saat itu ia mengaku sangat membenci musik karena dianggap haram, termasuk menyanyikan lagu Indonesia Raya. Bahkan di situasi saat itu, ia sama sekali tidak paham bahwa dirinya adalah intoleran.

“Saya tidak mau hormat bendera, karena itu bentuk kita menghormati benda mati. Saya gak suka musik karena musik itu haram. Itu sebelum saya jadi teroris,” ucapnya.

Dan sayangnya, sampai saat ini banyak majelis taklim di Indonesia yang masih menggelorakan pemahaman intoleran semacam itu. Mereka tidak bisa memahami dan menghargai ikhtilaf atau perbedaan pandangan umat Islam lainnya dalam memahami sebuah fiqih.

“Kan banyak itu ada majelis-majelis taklim yang mengajarkan tidak menghormati perbedaan di kaum muslimin. Tahlilan, maulid, baca yasin dan ziarah makam itu bid’ah, itu kita sudah memproduksi teroris-teroris, kalau sudah masuk intoleran maka dia butuh 2 tangga lagi bisa menjadi teroris,” tegasnya.

Oleh sebab itu, Sofyan Tasuri pun menyarankan agar pemerintah dan para pemangku kebijakan melihat sudut pandang ini jika memang benar-benar ingin menanggulangi terorisme di Indonesia.

“Penting bagi kita tumbuhkan di setiap sekolah belajar menghormati perbedaan. Jangan sampai bangsa ini terjebak pada dikotomi-dikotomi perbedaan, ini nggak menutup kemungkinan kita bisa seperti Pakistan, Afghanistan, Suriah, Libia dan sebagainya. Peperangan yang mereka lakukan berasal dari ajaran-ajaran yang tidak menghormati atau toleransi terhadap perbedaan-perbedaan yang ada,” pungkasnya.

BERITA TERBARU

TERPOPULER