Kisah Nabi Sulaiman As

HOLOPISCOM – Nabi Sulaiman bin Dawud ‘alaihissalam, Allah subhanahu wa ta’ala telah memberinya nubuwah (kenabian), mewarisi ilmu, nubuwah dan kerajaan ayahnya. Bahkan Allah subhanahu wa ta’ala memberikan tambahan baginya kerajaan yang besar yang belum pernah dimiliki siapa pun sebelum ataupun sesudahnya.

Allah subhanahu wa ta’ala menundukkan kepadanya angin yang berembus menurut ke mana saja beliau kehendaki, yang perjalanannya di waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan di waktu sore juga sama dengan perjalanan sebulan. Juga para jin dan setan serta Ifrit, yang mengerjakan untuknya pekerjaan besar menurut keinginannya. Mereka membuat untuk Nabi Sulaiman ‘alaihissalam gedung-gedung tinggi, patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk-periuk yang (tetap di atas tungku). Mereka datang dan pergi kemanapun sesuai kehendaknya.

Allah subhanahu wa ta’ala juga menundukkan kepadanya pasukan dari manusia, jin dan burung-burung lalu mereka diatur dengan tata tertib yang mengagumkan. Allah subhanahu wa ta’ala mengajarkan kepada beliau pengertian tentang suara burung dan seluruh hewan yang ada. Dan mereka kadang mengajak beliau berbicara dan beliau pun memahami pembicaraan mereka. Oleh sebab itu beliau dapat berdialog dengan Hud Hud dan menanyainya, juga mengerti ucapan seekor semut ketika mengingatkan semut-semut lainnya.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّمۡلُ ٱدۡخُلُواْ مَسَٰكِنَكُمۡ لَا يَحۡطِمَنَّكُمۡ سُلَيۡمَٰنُ وَجُنُودُهُۥ وَهُمۡ لَا يَشۡعُرُونَ ١٨

“Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadarinya.” (an-Naml: 18)

Semut itu memperingatkan dan memerintahkan supaya para semut itu melindungi diri mereka dari Sulaiman dan pasukannya. Nabi Sulaiman tersenyum dan tertawa mendengar kata-kata semut itu, lalu berkata,

وَقَالَ رَبِّ أَوۡزِعۡنِيٓ أَنۡ أَشۡكُرَ نِعۡمَتَكَ ٱلَّتِيٓ أَنۡعَمۡتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَٰلِدَيَّ وَأَنۡ أَعۡمَلَ صَٰلِحٗا تَرۡضَىٰهُ وَأَدۡخِلۡنِي بِرَحۡمَتِكَ فِي عِبَادِكَ ٱلصَّٰلِحِينَ ١٩

“Wahai Rabbku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua ibu bapakku. Dan agar aku mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.” (an-Naml: 19)

Salah satu bentuk kebaikan dan ketelitian pengaturan beliau adalah beliau sendiri yang langsung turun tangan memeriksa pasukannya. Padahal sudah ada masing-masing yang menjadi pengawas mereka. Juga karena firman Allah subhanahu wa ta’ala yang berbunyi

“Mereka diatur dengan tertib dalam barisan,” menunjukkan hal itu. Sehingga beliau sendiri mencari burung-burung agar mengetahui apakah dia berada di markasnya atau tidak.

Allah subhanahu wa ta’ala menceritakan hal ini dalam Al-Qur’an ketika Nabi Sulaiman tidak melihat burung Hud Hud, beliau berkata,

مَا لِيَ لَآ أَرَى ٱلۡهُدۡهُدَ أَمۡ كَانَ مِنَ ٱلۡغَآئِبِينَ ٢٠

“Mengapa aku tidak melihat Hud hud, apakah dia temasuk yang tidak hadir?” (an-Naml: 20)

Dan bukan seperti komentar sebagian mufassir bahwa beliau mencari Hud Hud adalah agar mencarikan daerah yang banyak airnya seberapa jauh dari tempat mereka saat itu. Karena sesungguhnya tanggapan tersebut berbeda jauh dengan susunan kalimat al-Qur’an. Allah tidak mengatakan bahwa beliau mencari Hud hud, tapi justru mengatakan dalam ayat itu “Dan dia memeriksa burung-burung.”

Kemudian Nabi Sulaiman mengancamnya karena telah menyelisihi perintahnya. Namun karena kerajaannya ditegakkan di atas keadilan, beliau menyebutkan pengecualian. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman menceritakan hal ini :

لَأُعَذِّبَنَّهُۥ عَذَابٗا شَدِيدًا أَوۡ لَأَاْذۡبَحَنَّهُۥٓ أَوۡ لَيَأۡتِيَنِّي بِسُلۡطَٰنٖ مُّبِينٖ ٢١ فَمَكَثَ غَيۡرَ بَعِيدٖ فَقَالَ أَحَطتُ بِمَا لَمۡ تُحِطۡ بِهِۦ وَجِئۡتُكَ مِن سَبَإِۢ بِنَبَإٖ يَقِينٍ ٢٢ إِنِّي وَجَدتُّ ٱمۡرَأَةٗ تَمۡلِكُهُمۡ وَأُوتِيَتۡ مِن كُلِّ شَيۡءٖ وَلَهَا عَرۡشٌ عَظِيمٞ ٢٣ وَجَدتُّهَا وَقَوۡمَهَا يَسۡجُدُونَ لِلشَّمۡسِ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَزَيَّنَ لَهُمُ ٱلشَّيۡطَٰنُ أَعۡمَٰلَهُمۡ فَصَدَّهُمۡ عَنِ ٱلسَّبِيلِ فَهُمۡ لَا يَهۡتَدُونَ ٢٤ أَلَّاۤ يَسۡجُدُواْۤ لِلَّهِ ٱلَّذِي يُخۡرِجُ ٱلۡخَبۡءَ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَيَعۡلَمُ مَا تُخۡفُونَ وَمَا تُعۡلِنُونَ ٢٥ ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ ٱلۡعَرۡشِ ٱلۡعَظِيمِ ٢٦

“Sungguh aku benar-benar akan mengazabnya dengan azab yang keras atau benar-benar menyembelihnya kecuali jika dia benar-benar datang kepadaku dengan alasan yang jelas. Maka tidak lama kemudian datanglah Hud Hud, lalu ia berkata,”

Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya, dan kubawa kepadamu dari negeri Saba’ suatu berita yang penting diyakini, Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar. Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah.

Setan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan Allah, sehingga mereka tidak mendapat petunjuk. Mengapakah mereka tidak sujud (menyembah) kepada Allah Yang Mengeluarkan apa yang tersembunyi di langit dan bumi. Dan Yang mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu tampakkan. Allah, tidak ada ilah kecuali Dia, Rabb yang Mempunyai ‘Arsy yang besar.” (an-Naml: 21—26)

Dalam kesempatan yang demikian singkat ini, Hud Hud datang membawa berita besar ini. Disampaikannya kepada Nabi Sulaiman tentang penguasa negeri Yaman, seorang ratu. Dan ratu itu dianugeahi segala yang dibutuhkan oleh seorang penguasa, bahkan mempunyai singgasana yang besar.

Hud Hud ternyata bukan hanya memahami kerajaan dan kekuatan mereka, tetapi juga mengerti apa yang menjadi keyakinan rakyat Saba’. Mereka adalah orang-orang yang musyrik, menyembah matahari. Hud Hud dengan tegas mengingkari kesyirikan yang mereka lakukan.

Hal ini menunjukkan bahwa hewan-hewan itu sesungguhnya mengenal Rabb (Yang menciptakan, memberi dan mengatur rezeki) mereka, di mana mereka juga bertasbih memuji dan mentauhidkan-Nya. Mereka mempunyai rasa cinta kepada orang-orang yang beriman dan mereka juga taat kepada Rabbnya. Bahkan mereka juga membenci orang-orang kafir dan orang yang mendustakan ajaran Allah dan Rasul-Nya. Mereka tunduk kepada Allah dengan sikap ini.

Hud-Hud menjawab; “Maafkanlah ya Rasulullah, aku telah tersesat di daerah yang sangat jauh dari tempat ini, di tempat tersebut di perintah oleh seorang putri Balqis ia punya nama, sedang kerajaannya bernama Saba.”

Mendengar laporan Hud-hud itu, hilanglah amarah Nabi Sulaiman, karena tertarik kisahnya itu. Kemudian Ia membuat sepucuk surat kepada raja perempuan itu yang berisi seruan untuk menyembah Allah Swt. dengan menyatakan bahwa Allah yang telah menganugrahi kerajaan yang besar itu, karena itu Allah wajib disembah dan janganlah menyembah selain-Nya.

Surat itu dihantarkan oleh burung Hud-hud, lalu burung Hud hud membawanya dan terbang ke negeri Saba. Dan setelah sampai di negeri tersebut surat yang dibawanya dijatuhkan dan secara kebetulan putri itu sendiri yang menerimanya.

Kemudian surat dari Nabi Sulaiman itu dibawa dan dibicarakan dalam ruang rapat oleh Putri Balqis dengan para menterinya, dan hasil dari rapat tersebut sebagaian dari para anggotanya menyetujui permintaan Nabi Sulaiman dan sebagian yang lainnya menolaknya serta mendesak sang Putri untuk bertempur dnegan pasukan Nabi Sulaiman.

Lalu Putri Balqis mengambil kesimpulan, “Perang bisa saja terjadi! Namun selagi ada jalan damai, mengapa kita harus berperang, sedangkan Nabi Sulaiman itu tidak mengajak perang.”

Pendapat dan kesimpulan Putri Balqis itu diterima, dan kepada burung HUd Hud diserahkannya surat balasan, dalam surat itu diterangkan, bahwa putri Balqis akan mengirimkan utusan untuk mneghadap Nabi Sulaiman A.S.

Utusan Putri Balqis Menghadap Nabi Sulaiman A.S

Setelah surat dibaca Nabi Sulaiman, segera diperintahkannya segala jin untuk membuat dan mempersiapkan istana yang indah, halaman dipenuhi segala permata yang berkilau-kilau dari segala warna.

Kemudian datanglah utusan Ratu BAlqis. Alangkah herannya mereka, tidak diduga sedikitpun semula bahwa Nabi Sulaiman sekaya itu. Utusan ratu Balqis menghadap Nabi Sulaimanseraya menyerahkan hadiah dari Ratu Balqis kepadanya.

Nabi Sulaiman berkata kepadanya:

“Maaf tuan-tuan, aku tidak memerlukan hadiah, hadiah dan karunia Allah telah cukup bagiku. Kembalilah tuah-tuan, bawalah kembali hadiah ini. Dan katakan kepada ratu Balqis, bahwa aku memerlukan ratu Balqis dan rakyatnya menghentikan menyembah matahari. Sembahlah Allah yang Maha Esa. Kalau perintahku tidak dilaksanakan aku akan datang menghancurkannya ratu Balqis dengan seluruh kerajaannya!.”

Kemudian utusan ratu Balqis kembali ke negeri Saba, dan setelah sampai di sana mereeka menceritakan segala sesuatu yang dialaminya dan menyampaikan pesan Nabi Sulaiman. Mendengar itu berkata ratu Balqis.

“Kalau begitu aku sendir perlu menghadap Nabi Sulaiman, dan saya perintahkan kepada seluruh pembantu-pembantuku untuk segera mempersiapkan segala sesuatunya.”

Ratu Balqis Menemui Nabi Sulaiman A.S

Ketika Ratu Balqis sampai dihadapan Nabi Sualiman, berkatalah Nabi Sualiman kepadanya: “Samakah seperti ini kursi kerajaanmu?”

Jawab Ratu Balqis: “Memang bentuknya sama seperti singgasanaku.”

Berkata Nabi Sulaima: “Betul ini singgahsanamu, aku bawa kemari dengan mudah, karena Allah telah memberikan pengetahuan kepada kami dan kami tunduk kepada-Nya.”

Lalu Ratu Balqis dipersilahkan masuk ke dalam istana yang lainnya lagi, istana tersebut terbuat dari kaca yang putih bersih dan dibawah istananya ada kolam air yang airnya mengalir.

Sewaktu Balqis lewat di tempat itu, disingsingkan kainnya hingga nampak betisnya yang putih bersih, karena ia mengira lantai mahligai itu air, dan ia takut kalau kainnya menjadi basah. Maka Nabi Sulaiman berkata kepadanya:

“ini bukan iar, tetapi mahligai ini terbuat dari kaca yang berkilau”

Berkata ratu Balqis; “Oh Tuanku telah aniaya aku akan diriku, dan sekarang berimanlah aku kepada Tuhan Sesembahanmu serta aku yakin bahwa engkau adalah utusan-Nya.”

Nabi Sulaiman A.S. Wafat

Tentang wafatnya Nabi Sulaiman, diceritakan dalam al-Qur’an, sebagai berikut:

“Ketika sampai ajalnya Nabi Sualiman A.S. tiadalah yang menunjukkan atas kematiannya, selain dari pada binatang (anai-anai) yang makan tongkatnya. Tatkala Ia tertelungkup (roboh), barulah terang bagi jin itu, bahwa kalau mereka mengetahui barang yang ghaib, niscaya tidaklah mereka tinggal dalam siksa kehinaanyang selama ini.” (Q.S. Saba, Ayat 14)

Demikianlah kematian Nabi Sulaiman, yang menurut riwayat beliau ini, meninggal sedang mengawasi jin-jin yang selalu bekerja keras. Dan menurut riwayat yang lain beliau sedang mengawasi mereka yang membangun masjid al-Aqsha (Baitul Maqdis), dan setelah masjid itu selasai beliau terjatuh dari kursinya dan menyebabkan kewafatannya.

BERITA TERBARU

Heboh Soal Ujian Madrasah, FKDT Karawang Minta Maaf

JAKARTA, HOLOPIS.COM - Ketua Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT) Kabupaten Karawang, Zain Asyikin menyampaikan permohonan maafnya kepada publik terkait dengan hebohnya salah satu soal...

Tindakan Korupsi Juga Termasuk Gangguan Kejiwaan? Yuk, Cek Teorinya!

JAKARTA, HOLOPIS.COM - Hari Antikorupsi Sedunia yang diperingati pada tanggal 9 Desember setiap tahunnya bertujuan untuk meningkatkan kesadaran publik agar bersikap antikorupsi. Sayangnya, tingkat...

4 Warga Terpapar Omicron Hoaks

JAKARTA, HOLOPIS.COM - Plt Direktur Jenderal Pengecahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan RI, dtr Maxi Rein Rondonuwu menyampaikan, bahwa pihaknya masih belum menemukan...

Seluruh Bangsa Indonesia Harus Budayakan Anti Korupsi

JAKARTA, HOLOPIS.COM - Korupsi adalah bagian dari wujud kejahatan luar biasa alias extra ordinary crime. Karena dampak dari perilaku koruptif bisa merugikan banyak orang...

Mahfud MD Dorong Baznas Buka Kerjasama Entaskan Kemiskinan Masyarakat

JAKARTA, HOLOPIS.COM - Ketua Dewan Penggerak Masyarakat Ekonomi Syariah, Prof Mohammad Mahfud MD, meminta kepada Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) untuk membuat program yang...