Ragam

IFRA 2026 Usai, Sinyal Bisnis Waralaba Indonesia Makin Ngegas

Ronalds Petrus Gerson
Bagikan:

HOLOPIS.COM, TANGERANG — Pameran waralaba dan peluang bisnis IFRA 2026 resmi berakhir. Selama tiga hari, ajang yang digelar di ICE BSD City ini mempertemukan ratusan brand dengan calon mitra yang sedang mencari peluang usaha.

The 25th International Franchise, License and Business Concept Expo & Conference (IFRA) 2026 berlangsung pada 28-30 Agustus 2026 di Hall 7, Indonesia Convention Exhibition (ICE), BSD City.

Diselenggarakan Asosiasi Franchise Indonesia (AFI) bersama Dyandra Promosindo, IFRA tahun ini menghadirkan 250 brand dari 175 perusahaan lintas sektor.

Bukan cuma pamer produk dan konsep usaha, pameran ini juga menjadi tempat bertemunya pemilik brand, pelaku bisnis, calon mitra, hingga masyarakat yang ingin melihat langsung peluang usaha yang tersedia.

Di tengah makin banyaknya pilihan bisnis kemitraan dan waralaba, calon pengusaha ternyata tidak cukup hanya melihat besarnya modal awal atau potensi keuntungan.

Sistem bisnis, pendampingan, transparansi, hingga pengalaman pemilik brand menjadi sejumlah hal yang perlu diperiksa sebelum seseorang memutuskan bergabung.

Hal itu dirasakan langsung Alfamart yang kembali ambil bagian dalam IFRA 2026.

“Alfamart selalu konsisten hadir di IFRA setiap tahunnya, dan tahun ini booth kami menarik banyak pengunjung, sehingga kami mendapat calon-calon mitra baru yang sebelumnya belum familiar dengan skema kemitraan Alfamart. Kami melihat ada kepercayaan terhadap kurasi tenant yang dihadirkan di event IFRA, dan acara ini menjadi tempat pertemuan antara calon mitra baru dan Alfamart yang cukup signifikan bagi kami,” ujar Monica Ayu P, Franchise Relation Manager Alfamart.

Menurut Monica, calon mitra juga perlu melihat bagaimana sebuah brand mendampingi partner ketika bisnis mulai menghadapi persoalan.

“Jika mencari prospek bisnis kemitraan, hal yang perlu diperhatikan adalah yang pertama pengalaman mitra yang diajak bekerja sama, selanjutnya yang kedua adalah pendampingan pada usaha untuk memperkuat bisnis dan apabila mengalamitantangan agar bisnis berkelanjutan dikarenakan banyak hal yang perlu dipikirkan, mulai dari karyawan, kontinuitas produk, hingga layanan,” tambahnya.

Waralaba Beda dengan Kemitraan

Ketua Umum Asosiasi Franchise Indonesia (AFI) Anang Sukandar menyoroti hal lain yang tak kalah penting: masyarakat masih kerap menyamakan waralaba dengan kemitraan.

Padahal, menurut dia, keduanya mempunyai karakteristik yang berbeda.

“Kemitraan itu bentuknya bisa macam-macam. Misalnya, KSO atau Kerja Sama Operasi, yaitu kerja sama antara dua pihak yang membagi peran, satu pihak di sisi produksi dan pihak lain di sisi pemasaran. Ada juga pola PIR atau Perusahaan Inti Rakyat, di mana perusahaan inti membina dan mendampingi pelaku usaha kecil dari sisi produksi, kemudian membeli dan memasarkan hasilnya. Bentuk lainnya adalah subkontrak, misalnya produsen lokal yang memproduksi barang sesuai standar dari brand internasional, sementara distribusinya tetap dipegang oleh brand tersebut. Ketiganya sama-sama soal kerjasama usaha dengan pembagian peran yang jelas, dan masing-masing pihak yang terlibat perlu menjalankan tanggung jawabnya sesuai peran tersebut agar kerja sama dapat berjalan berkelanjutan. Sementara itu, waralaba menurut saya lebih tepat dilihat sebagai konsep pemasaran dan strategi perluasan pasar suatu brand, jadi penting bagi pelaku usaha untuk memahami karakteristik masing-masing skema sebelum memutuskan bergabung,” ujar Anang.

Ia menilai baik waralaba maupun kemitraan membutuhkan sistem dan standar yang jelas. Etika bisnis serta tanggung jawab masing-masing pihak juga menjadi bagian penting agar kerja sama tidak berhenti di tengah jalan.

ARTIKEL TERKAIT