Internasional
Donald Trump Minta Eropa Bayar Kembali Bantuan Senjata untuk Ukraina
HOLOPIS.COM, JAKARTA – Presiden Amerika Serikat Donald Trump meminta negara-negara Eropa mengganti biaya bantuan militer dan amunisi yang sebelumnya dikirim Washington ke Ukraina selama perang dengan Rusia.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump melalui media sosial pada Kamis (3/9). Ia juga mengisyaratkan bahwa Amerika Serikat untuk sementara akan memprioritaskan persediaan amunisinya sendiri sebelum kembali menjualnya kepada negara-negara sekutu.
Donald Trump menanggapi laporan mengenai menipisnya stok amunisi Amerika Serikat, terutama di tengah perang yang berlangsung di Iran. Ia mengatakan pemerintah AS kini meningkatkan produksi sekaligus menyimpan lebih banyak amunisi untuk kebutuhan dalam negeri.
“Kami mengambilnya untuk diri kami sendiri, Amerika Serikat, daripada menjualnya kepada pihak lain, tetapi penjualan kepada sekutu akan segera dimulai kembali,” tulis Donald Trump, dikutip Holopis.com, Jum’at (4/9).
Donald Trump juga menyinggung besarnya nilai bantuan yang telah diberikan Amerika Serikat kepada Ukraina dan NATO. Ia menyalahkan pemerintahan mantan Presiden Joe Biden karena menurutnya bantuan tersebut diberikan tanpa meminta negara-negara Eropa menanggung biayanya.
“Ratusan miliar dolar diberikan kepada Ukraina dan NATO secara cuma-cuma, yang seharusnya dibayar oleh Eropa. Jika mereka hanya diminta, tetapi kami akan meminta uang itu, meskipun agak terlambat!” tambahnya.
Tahun lalu, Amerika Serikat bersama NATO memang mengembangkan Prioritised Ukraine Requirements List (PURL), sebuah mekanisme yang memungkinkan negara-negara Eropa membayar pengadaan senjata buatan AS untuk kemudian dikirimkan ke Ukraina.
Harga Minyak Ikut Terdampak
Di sisi lain, dampak perang Ukraina dan Iran turut terasa di sektor energi. Harga minyak dunia pada Kamis (3/9) menyentuh level tertinggi dalam enam pekan terakhir.
Kenaikan tersebut dipicu kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi dari Timur Tengah setelah serangan terbaru Amerika Serikat ke Iran dan ancaman baru Israel terhadap Teheran. Situasi semakin diperburuk dengan aktivitas kapal yang masih melambat di kawasan Selat Hormuz.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent sebelumnya turut mengaitkan kenaikan harga minyak dan gas dengan serangan Ukraina terhadap target energi Rusia.
“Kami sedang menghadapi guncangan energi saat ini akibat perang di Ukraina karena, Anda tahu, Ukraina memutuskan bahwa mereka ingin menghancurkan aset energi dan produk olahan Rusia, sehingga hal itu menciptakan tekanan kenaikan harga secara global, dan kemudian konflik di Iran,” kata Bessent dalam wawancara dengan Fox News.
Dampak ekonomi dari kedua perang tersebut juga berpotensi memengaruhi politik domestik Amerika Serikat. Perkembangan perang Ukraina dan Iran serta gejolak harga energi dapat menjadi salah satu faktor yang menentukan kemampuan Partai Republik mempertahankan kendali atas kedua kamar Kongres AS pada tahun depan.
ARTIKEL TERKAIT
- Bukan Cuma RI! 7 Negara Ini Juga Rayakan Kemerdekaan di Bulan Agustus
- Seolah Sengaja Pancing Emosi, Donald Trump Edit Peta Kanada dengan Bendera AS
- GNK Sebut Pembunuhan Ayatollah Kejahatan Kemanusiaan dan Pengkhianatan Perdamaian Dunia
- Sejarah Hari Kebebasan Dunia : Simbol Runtuhnya Tembok Berlin
- Bang Jago Ngehack Ini Gabung Pemerintahan Trump, Rekrutan Elon Musk