Chanee Kalaweit: Deteksi Dini dan Larangan Api Sejak Awal Kemarau Kunci Cegah Karhutla

0 Shares
Ukuran Teks:
21
Dengarkan:

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Pendiri Yayasan Kalaweit, Chanee Kalaweit, menekankan pentingnya mitigasi dan deteksi dini untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meluas setiap musim kemarau.

Menurut Chanee, pemerintah tidak seharusnya menunggu hingga kebakaran terjadi di berbagai lokasi dan asap menyelimuti wilayah permukiman untuk mengambil langkah pembatasan aktivitas yang berpotensi memicu api.

Ia mengusulkan penerapan larangan penggunaan api sejak awal musim kemarau, disertai patroli rutin dan sistem deteksi dini yang memungkinkan petugas bergerak sebelum kebakaran berkembang menjadi lebih besar.

“Jangan menunggu siaga satu, api di mana-mana, asap di mana-mana untuk melarang seluruh pihak untuk bikin api. Harus di awal musim kemarau, di bulan Juni, sudah diterapkan adanya larangan api apa pun,” ujar Chanee, Rabu (21/10/2026).

Ia menjelaskan, upaya pencegahan perlu dilakukan melalui sejumlah metode, mulai dari patroli udara menggunakan pesawat ringan, pemanfaatan drone, pembangunan menara pengawas, hingga pemantauan titik-titik awal kemunculan asap.

Menurutnya, keberadaan sistem deteksi dini akan lebih bermanfaat apabila diikuti respons cepat petugas di lapangan. Ketika ditemukan aktivitas pembakaran, petugas dapat segera melakukan pencegahan, memberikan teguran, dan menindak pelanggaran sesuai ketentuan hukum.

Chanee menilai, setiap sumber api perlu ditangani secara serius sejak awal agar tidak berkembang menjadi kebakaran besar yang sulit dikendalikan.

Ia juga menyoroti persoalan koordinasi antarlembaga yang menangani kebakaran hutan. Berdasarkan pengamatannya selama penanganan karhutla, terdapat sejumlah badan yang terlibat, seperti Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Manggala Agni, dan pemadam kebakaran.

Namun, banyaknya lembaga yang terlibat dinilai belum selalu menjamin koordinasi yang efektif di lapangan.

“Begitu banyak badan yang urus kebakaran hutan, ada BNPB, ada Manggala Agni, Damkar dan lain sebagainya, ujungnya di lapangan tidak ada koordinasi, bahkan kadang berantem sesama badan,” ungkapnya.

Chanee berpandangan, penanganan kebakaran akan lebih efektif apabila terdapat satu badan yang mengoordinasikan keseluruhan operasi, mulai dari penyusunan strategi hingga pelaksanaan penanganan di lapangan.

Menurutnya, koordinasi yang terpusat dapat memudahkan penyusunan strategi sesuai karakteristik kebakaran, termasuk perbedaan kondisi hutan gambut dan hutan mineral, tingkat jarak pandang, serta arah dan kekuatan angin.

Ia juga mengapresiasi peningkatan upaya penanganan karhutla yang diamatinya pada tahun ini. Selama hampir 30 tahun berada di Indonesia, Chanee menilai pengerahan berbagai sumber daya dan kehadiran pejabat kementerian di lapangan menjadi perkembangan yang patut diperhatikan.

- Advertisement -
Google News

Jadikan Holopis.com sebagai sumber utama pilihanmu di Google untuk mendapatkan berita terbaru dan informasi aktual.

Tambahkan Sekarang
Muhammad Ibnu Idris
Tim Penulis & Editor
Muhammad Ibnu Idris
Apresiasi untuk Muhammad Ibnu Idris

Menyukai tulisan ini? Dukung penulis agar dapat terus menghadirkan karya berkualitas.

Pembayaran via QRIS, GoPay, DANA, OVO & ShopeePay.
0 Shares

💬 Diskusi Pembaca

0 Komentar

Masuk dengan akun Google Anda untuk bergabung dalam diskusi:

Memuat diskusi...

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Holopis UMKM
DKI JAKARTA
☀️ 🌙
00:00:00
Memuat Tanggal...
MEMUAT
-
---- H
MEMUAT 00:00
-- : -- : --
Waktu Dhuha --:-- — --:--

YANG BARU