HOLOPIS.COM, JAKARTA – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kekeringan tak lagi sekadar persoalan titik api. Dampaknya bisa merembet ke ketersediaan air bersih, kesehatan masyarakat, pertanian, hingga ketahanan pangan.
Wakil Ketua I Panitia Perancang Undang-Undang (PPUU) DPD RI, Senator Agustinus R. Kambuaya, meminta pemerintah menyiapkan langkah terpadu untuk menghadapi kondisi tersebut.
Ia juga mendorong Presiden Prabowo Subianto mempertimbangkan langkah nasional apabila skala dan dampak karhutla serta kekeringan memenuhi kriteria penanganan bencana sesuai aturan yang berlaku.
Menurut Agustinus, penanganan karhutla tidak cukup hanya dengan memadamkan api. Pemerintah perlu mengantisipasi dampak lanjutan, terutama ketika kebakaran terjadi bersamaan dengan kekeringan.
Kondisi itu dapat mengganggu pasokan air bersih, kesehatan masyarakat, serta aktivitas pertanian yang pada akhirnya berisiko terhadap ketahanan pangan.
“Jika skala dan dampaknya memenuhi ketentuan kebencanaan, pemerintah perlu mempertimbangkan penetapan status bencana pada tingkat yang sesuai, termasuk kemungkinan bencana nasional/kejadian luar biasa berdasarkan kajian dan data resmi,” kata Agustinus dalam keterangan resminya, Rabu (7/10).
Ia menegaskan, penentuan status bencana harus tetap berdasarkan data dan kajian resmi.
Agustinus mengusulkan pembentukan task force nasional yang menangani karhutla dan kekeringan secara terpadu.
Tim tersebut diharapkan mencakup pencegahan dan pemadaman karhutla, penanganan krisis air bersih, perlindungan petani dan pangan, dampak kesehatan, pemulihan hutan dan lahan, serta dukungan dana untuk respons cepat.
“Negara harus hadir sebelum bencana menjadi krisis kemanusiaan,” ujar Agustinus.
Air dan Pangan Ikut Terancam
Menurut Agustinus, kekeringan perlu menjadi perhatian karena berkurangnya sumber air dapat langsung memengaruhi kebutuhan masyarakat dan produksi pertanian.
BNPB pada awal Oktober 2026 masih mencatat karhutla dan kekeringan di sejumlah wilayah. Di Seram Bagian Barat, Maluku, misalnya, kekeringan menyebabkan debit sumber air dan sumur warga menurun hingga berdampak pada sekitar 80 kepala keluarga. Di Kendal, Jawa Tengah, sejumlah sumber air juga mulai mengering dan berdampak pada ribuan warga.
Karhutla juga masih terjadi di sejumlah daerah, dengan penanganan dilakukan melalui operasi darat, udara, dan langkah lain sesuai kondisi di masing-masing wilayah.
Agustinus mengingatkan dampaknya bisa berkembang secara bertahap dari kebakaran, berkurangnya air, hingga gangguan terhadap produksi pangan.



